Selasa, 17 Januari 2017

Maryam: Perlukah Mengasihani Ahmadiyah?

Assalamu'alaikum. Awal tahun ini, saya mau menggiatkan lagi membaca buku. Tahun lalu benar-benar malas, walaupun tetap membeli buku tapi jarang yang selesai dibaca. Salah satu novel yang sudah selesai saya baca di awal tahun ini adalah Maryam, karya Okky Madasari.


Ada beberapa alasan mengapa saya tertarik membacanya. Pertama, saya cocok dengan gaya menulis Okky Madasari. Saya sudah baca dua novelnya yang lain, Entrok & 86. Keduanya saya baca hanya dalam beberapa jam saja. 

Kedua, ini novel pemenang Khatulistiwa Literatur Award tahun 2012. Saya ingin belajar menulis dari karya-karya pemenang penghargaan sastra. Walaupun tidak semua bisa saya baca hingga tuntas. 

Ketiga, beberapa tahun lalu saat novel ini baru terbit, sudah banyak teman penulis yang membicarakannya. Jadi saya makin penasaran seperti apa sih ceritanya. 

Seperti yang sudah saya prediksi. Novel ini pun bisa saya baca hanya dalam waktu 2-3 hari. Saya lupa persisnya. Novel ini berkisah tentang Maryam, seorang gadis dengan pergulatan batinnya karena berasal dari keluarga yang menganut aliran Ahmadiyah. 

Berdasarkan fatwa MUI, Ahmadiyah termasuk aliran sesat karena menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi dan Nabi Isa. Ahmadiyah sendiri ada dua paham. Yang pertama menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi dan Nabi Isa. Yang kedua, hanya menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai Mujaddid, atau pembaharu, atau semacam dai dan ulama. 

Ceritanya, si Maryam ini mulai merasa goyah keimanannya sebagai orang Ahmadi karena dirinya dianggap berbeda dari muslim kebanyakan. Saat akan menikah pun, dia hanya boleh menikah dengan sesama Ahmadi. Dia juga tahu bahwa keluarga besarnya yang Ahmadi memang tidak berjamaah dengan muslim kebanyakan.

Orang Ahmadiyah melakukan salat di masjid sendiri, tidak mau bermakmum dengan orang di luar Ahmadiyah, kalau ada orang yang salat di masjid Ahmadiyah maka bekasnya akan dipel, mengadakan pengajian sendiri khusus Ahmadi, dan sudah tentu tidak boleh menikah dengan orang di luar Ahmadi. 

Awalnya tak ada pertentangan, sampai kemudian calon suami Maryam tiba-tiba menjadi menghilang. Tidak jadi menikah dengan Maryam bahkan menyebut semua orang Ahmadi sebagai orang sesat. Rupanya calon suami Maryam ini berubah menjadi orang Islam kebanyakan.

Maryam pun mencari kerja di kota agar dapat melupakan kegagalan pernikahannya. Sampai kemudian dia jatuh cinta kepada Alam yang bukan orang Ahmadiyah. Orangtuanya dan orangtua Alam keberatan kecuali salah satu pindah aliran. Maryam memilih Alam dan meninggalkan keluarganya. Maryam tak peduli lagi dengan iman Ahmadiyahnya. 

Namun, pernikahan itu hanya sebentar karena ibunda Alam masih terus mengungkit masa lalu Maryam yang orang Ahmadiyah. Juga selalu menagih minta cucu sedangkan Maryam tidak hamil-hamil. Setelah bercerai, Maryam kembali ke rumah orangtuanya.

Malang, dia tidak menemukan rumah orangtuanya. Rupanya semua keluarga Ahmadiyah yang ada di desanya diusir oleh warga setempat karena dianggap aliran sesat. Maryam mencari keluarganya sampai ketemu. Orangtuanya mau menerimanya kembali dan mencarikannya jodoh sesama Ahmadiyah, yaitu Umar. 

Maryam dan Umar sebenarnya tidak peduli tentang Ahmadiyah atau bukan. Yang penting mereka Islam. Tapi kejadian yang sama kembali terulang. Ada demonstrasi besar-besaran untuk mengusir semua penganut Ahmadiyah di desa tempat orangtua Maryam tinggal. Sampai semua dijarah dan dibakar. 

Solusinya mudah saja. Gubernur meminta penganut Ahmadiyah bertaubat. Tapi mereka tetap yakin dengan keimanannya dan tidak mau bertaubat. Mereka merasa tidak sesat. Mereka sudah berbaur dengan warga muslim kebanyakan, tapi mengapa masih diusir? 

Maryam kesal. Mengapa hanya karena meyakini sesuatu, harus ada pengusiran, penjarahan, bahkan pemaksaan untuk berpindah iman? Mereka tetap muslim, mengapa disuruh mengucap syahadat lagi? Cerita ditutup dengan surat Maryam kepada pihak berwenang agar mengambalikan tanah dan harta orangtuanya yang dirampas paksa hanya karena berbeda keyakinan. 

Seperti biasa, setiap selesai membaca buku yang menarik, saya pasti akan mencari info lebih banyak tentang isu yang diangkat. Memang dulu ada kasus pembakaran dan pengusiran Ahmadiyah. Saya pun mencari tahu apa itu Ahmadiyah. 

Seperti yang saya sebutkan di atas. Ahmadiyah ada dua aliran, yang meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Imam Mahdi dan Nabi Isa, dan yang meyakini bahwa beliau hanya seorang Mujaddid (pembaharu). 

Saya tidak punya kapasitas agama mumpuni untuk menilai sebuah aliran itu sesat atau tidak. Akan tetapi, membaca kisah Maryam ini, justru saya bingung. Jika Ahmadiyah tidak sesat, mengapa mereka bersikap eksklusif terhadap orang Islam di luar Ahmadiyah?

Ahmadiyah tidak mau salat di belakang orang Islam di luar Ahmadiyah, tidak mau menikah dengan orang Islam di luar Ahmadiyah, tidak mau mengaji bersama, dll. Sebagaimana disebutkan oleh Pak Gubernur. Solusinya mudah. Kalau memang tidak sesat, ya berbaurlah, beribadah bersama-sama. Tapi nyatanya, Ahmadiyah tidak mau beribadah bersama orang Islam di luar Ahmadiyah. 

Jadi, bisa disimpulkan sendiri lah ya, siapa yang pertama kali memantik api. Kalau memang mengaku sama-sama Islam, mengapa tidak mau beribadah bersama dengan orang Islam lainnya? 

Lain halnya dengan Islam NU, Muhammadiyah, Salafi, Jamaah Tabligh, dan golongan Islam lain yang tetap salah di masjid yang sama karena sama-sama muslim. Ahmadiyah seperti membuat agama sendiri. Jika ingin membuat agama sendiri, sebut saja agama Ahmadiyah. Tidak perlu menambahkan kata Islam. Itu permintaan orang Islam kebanyakan agar tidak ada lagi pengusiran terhadap warga Ahmadiyah. 

Penulis, sudah tentu menceritakan secara dramatis soal pengusiran dan penjarahan. Saya pun sebagai muslim tidak suka dengan aksi kekerasan, apalagi penjarahan. Tapi saya setuju dengan solusi gubernur. Jika memang tidak sesat, mengapa bersikap eksklusif? Jadi, perlukah mengasihani Ahmadiyah? 

Judul: Maryam
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Cetakan Ketiga, April 2016
ISBN: 978-979-22-8009-8

5 komentar:

  1. mantapp nih web di tunggu kunjungan baliknya:)

    BalasHapus
  2. Saya mah Islam yang wajar saya ya teh, justru kalau lihat aliran yang beda beda gitu ngeri.

    BalasHapus
  3. Orang2 Ahmadiyyah terbuka untuk diskusi lho mbak.. saran saya daripada hanya menduga-duga yang malah bisa menimbulkan suhudzon, lebih baik ditanyakan langsung ke mereka.. salam kenal.. :)

    BalasHapus
  4. Semoga buku ini ngga menimbulkan kontroversi baru ya :)

    BalasHapus
  5. pnasaran pingin baca bukunya

    BalasHapus