Judul: Ketika Emak Memakai Celana Dalamku
Penulis: Ahmad Zaenudin
Penerbit: Indie Book Corner
ISBN: 978-602-3092-73-4
Jumlah Halaman: xii+188
Tahun Terbit: 2017
Membaca judulnya, kening saya sudah berkerut. Ini cerita apa ya? Vulgar kah? Kemudian saya membaca penerbitnya: Indie Book Corner. Oh penerbit indie. Kalau dulu saya mengenalnya sebagai Self Publishing alias penulis menerbitkan bukunya sendiri. Saya baca keterangan di belakang buku.
Indie Book Corner adalah sebuah proyek yang didirikan sebagai upaya membantu penulis-penulis pemula ataupun penulis yang sudah mapan untuk memublikasikan karyanya dalam bentuk buku. Kalau menurut pemahaman saya, proyek seperti ini didanai seluruhnya atau sebagian dari uang penulisnya sendiri. Dengan kata lain, banyak yang menyangsikan kualitas buku-buku indie karena tidak melalui seleksi penerbit. Benarkah demikian? Kita buktikan melalui buku ini.
Ini adalah buku kumpulan cerita pendek yang entah fiksi atau pengalaman asli penulisnya atau cerita pengalaman berbalut fiksi. Buku ini ditulis dalam 2 bahasa, Indonesia dan Inggris. Jadi buat kita yang mau baca buku sambil belajar bahasa Inggris, baca buku ini deh. Bahasa Inggrisnya juga nggak susah-susah amat.
Ada 10 cerita yang ditulis dengan bahasa yang teratur, ringan, enak dibaca, dan tidak ada typo (kesalahan pengetikan). Kalau ada yang bilang buku indie itu berantakan karena tak ada editor, maka buku ini pengecualian karena buku ini memiliki editor (penyunting), pemeriksa aksara, ilustrator, penata letak, dan disainer kover. Saya jamin cerita-cerita di dalamnya enak dibaca karena penyusunan kalimat yang baik dan tidak ada salah ketik.
Kovernya sendiri menurut saya kurang menarik. Mirip kover buku-buku zaman dulu. Kalau bukan karena saya ingin lebih rajin baca buku di tahun ini, mungkin akan saya tinggalkan saja buku ini. Saya membaca dari cerita pertama: Suatu Hari Ketika Bubuk Deterjen Menjadi Garam. Diawali dengan prolog dari tokoh Aku yang saya duga adalah penulisnya sendiri. Buku ini ingin menceritakan kehidupan si Aku bersama emaknya.
![]() |
Kover Depan |
Jadi, si Aku adalah anak bungsu dari Emak. Anak Emak ada 6 dan yang 5 orang sudah pergi semua setelah berumahtangga. Tinggallah Emak dan si bungsu. Si Bungsu ini menceritakan kesehariannya bersama Emak. Emak seorang janda yang ditinggal kawin oleh suaminya dan mencari nafkah dengan menjadi guru mengaji. Sebenarnya dulu mereka memiliki banyak harta tapi Emak suka boros sehingga uangnya pun habis. Emak tipikal ibu-ibu pada umumnya yang suka belanja.
Cerita pertama, si Aku yang bernama Ahmad ini baru kelas 4 SD dan disuruh membantu memasak oleh Emak. Dia diminta memasak bayam. Ahmad sudah menunaikan tugasnya dengan baik tapi justru Emak yang salah mengeksekusi bagian akhirnya. Emak menaburkan garam pada sayur bayam itu sehingga sayurnya pun berbusa-busa.
Ini cerita yang sederhana tapi penulis bisa menuliskannya secara menarik sehingga saya mau membaca cerita berikutnya, yaitu cerita yang menjadi judul utama yaitu Ketika Emak Memakai Celana Dalam. Vulgarkah cerita ini? Ternyata tidak. Sekilas menceritakan kehidupan Emak di masa lalu yang dari keluarga terpandang karena ayah angkatnya kaya raya. Emak menghabiskan uang ayah angkatnya sehingga akhirnya Ahmad harus bersekolah dengan uang bantuan. Bahkan Ahmad mendapat bantuan celana dalam sampai suatu ketika celana dalamnya hilang. Akhirnya mudah ditebak. Celana dalam itu dipakai oleh Emak sampai melar.
Cerita yang sederhana bukan? Tapi entah mengapa cara bertutur penulisnya sangat menarik dan cerita sederhana ini mampu membuat saya tertawa. Kelucuan sikap Emak itu bisa jadi ada pada emak-emak lain di Indonesia ini. Termasuk saya sendiri. Ternyata cerita keseharian yang sederhana pun bisa menjadi bacaan yang menarik.
Dan tentunya masih ada 8 cerita lainnya tentang Ahmad dan Emak. Ada yang lucu, ada yang membuat sedih. Bahkan ada yang membuat marah. Seperti kisah Jampi-jampi dalam Sayur Lodeh. Ketika Emak mempunyai banyak utang dan tak bisa melunasinya. Emak menjual mesin jahit milik anak sulungnya. Si anak sulung marah luar biasa sampai menendang Emak hingga tersungkur ke tanah. Sungguh dilematis.
Tipikal Emak yang hobi berutang itu banyak sekali. Di sekitar saya juga ada. Alasan berutang terkadang mulia, untuk kepentingan anak-anaknya juga. Tapi ada pula Emak yang berutang untuk foya-foya. Mau marah? Nanti jadi anak durhaka. Agak berlebihan perilaku si sulung yang menendang Emak tapi itu hasil dari didikan Emak juga.
Cerita yang membuat sedih ada pada kisah Emak yang datang ke Jakarta setelah Ahmad sukses menuntut ilmu dan bekerja di Jakarta. Emak sangat ingin naik haji, tapi Ahmad berdalih bahwa Emak orang miskin jadi tak perlu naik haji. Sebaliknya, Ahmad justru sering traveling ke luar negeri tapi enggan membiayai ongkos Emak naik haji. Sebuah ironi masa kini. Betapa orang-orang ingin traveling ke banyak negara tapi enggan naik haji. Akhirnya, ketika Ahmad sudah siap mengongkosi Emak untuk naik haji karena sudah puas traveling, Emak sudah tidak kuat dan meninggal dunia.
Ada banyak kisah dalam hidup kita seperti kisah Ahmad dan Emak. Kisah-kisah itu barangkali hanya kisah sederhana tapi siapa tahu bisa menginspirasi pembaca. Walaupun buku ini buku indie, tapi kualitasnya setara dengan buku yang diterbitkan penerbit besar. Saya tak rugi membacanya karena semua ceritanya membuat saya penasaran untuk membacanya sampai habis.
Buku ini bisa didapatkan dengan harga Rp 65.000 di:
www.bukuindie.com
FB: Indie Book Corner
Twitter: @indiebookcorner
Baca resensi dari mbak aja udah cukup seru... Aku jadi penasaran pengen baca bukunya secara keseluruhan... Ini beli dimana mbak?
BalasHapusBuku yang keren dan memang kisah nyata dari penulisnya ini Mbak..Karena Beliau teman saya SMP.
BalasHapusKayaknya cerita ini seru dan wajib di baca buku nya.
BalasHapusJudul sensational agar orang tertarik membaca nya dan membelinya. Ringan cerita tidak terasa habit di baca
BalasHapusTemanya menarik, hal-hal riil yang terjadi di sekitar kita
BalasHapusJudulnya ya setajam silet hahaha .Cerita ringan ya jadi tertarik untuk membaca keseluruhan ceritanya nih
BalasHapusRingkasan cerita dari mba leyla membuat saya ingin langsung membacanya. Bukunya keren bgtt
BalasHapusKalau buku indie dapet royalti ga tuh?
BalasHapusUdah aku tebak pas baca judulnya. Itu yg terakhir bener banget banyak orang mengupayakan untuk traveling tapi melupakan perjalanan yg paling dianjurkan yaitu ke tanah suci... ironis emang. oya btw, dulu aku juga pernah nerbitkan buku antologi secara Indie, terus dipungut sama penerbit mayor dan sampe sekarang ga ada kabarnya lagi, haha, bhaay
BalasHapusBaca judulnya gimana gitu, terus gregetan banget baca yang emak ditendang
BalasHapusAgak miris yaa... Tapi itu fakta anak bisa menghamburkan uang dgn traveling kemana-mana nggak usah deh naik haji cukup berangkatkan umroh saja belum tentu mau
BalasHapusJudul bukunya lucu dan menarik, jadi penasaran untuk baca sendiri ini.
BalasHapusJudulnya unik, hahaha. Jadi penasaran sama cerita2nya.
BalasHapusKok baca akhirannya jadi sedih ya 😢
BalasHapusCover zaman old gpp, yg penting isinya msh update dgn kondisi skrng ya hehe
BalasHapusJadi penasaran membaca detail semua isinya. Kira-kira berapa harga bukunya Mba?
BalasHapusYang indie gini kadang lebih seru bacanya karena menggunakan bahasa yg ringan, terlalu berat jadi males baca ya mba
BalasHapus