Selasa, 08 Maret 2016

My Wedding Dress: Traveling Pakai Baju Pengantin? Hohoho….



Judul: My Wedding Dress
Penulis: Dy Lunaly
Penerbit: Bentang
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Oktober 2015
Jumlah halaman: vi + 270 halaman
ISBN: 978-602-291-106-7

“Getting lost is the best way to travel,”
“Bilang ini sama anak umur lima belas tahun yang ketakutan karena terpisah, terus orang di sekitarnya nggak ada yang bisa bahasa Inggris apalagi Indonesia.” (halaman 152)


Aku menatap gaun pengantin itu sambil kembali menarik napas panjang dan merapal mantra. Semua harus berakhir hari ini! Masih sambil menguatkan tekad, aku mengambil gaun itu dan melepasnya dari gantungan. Untuk kali terakhir, aku mengusap Swarovski yang menjadikan gaun ini sempurna sebelum bersiap menghancurkannya. (halaman 22)

Abigail, biasa dipanggil Abby, menerima hantaman keras di hari pernikahannya. Setelah mengenakan gaun putih yang cantik dan menunggu calon suami datang mengucapkan janji pernikahan, ia justru menerima kabar bahwa calon suaminya, Andre, menghilang! 

Saya tidak bisa membayangkan jika mengalami kejadian seperti Abby. Sudah pasti sedih, kecewa, menangis berhari-hari, dan mungkin saja berpikir untuk bunuh diri. Malunya itu, lho! Malu kepada keluarga besar dan para undangan. Bayangkan! Acara pernikahan sudah disiapkan, calon pengantin perempuan pun sudah cantik dengan gaunnya, eh calon pengantin laki-lakinya malah kabur. Bahkan, setahun setelah kejadian itu, Abby masih belum tahu alasan Andre meninggalkannya. Andre lenyap ditelan bumi. Tak ada kabar beritanya. Tak tahu berada di mana. Sedikit aneh, tapi mungkin saja. Dunia ini kan luas. Seseorang bisa bersembunyi di mana saja. Koruptor sekelas Eddy Tansil saja sampai hari ini masih belum ditemukan keberadaannya. 

Setahun berlalu, Abby masih belum move on. Ia membulatkan tekad untuk move on dengan membuang semua barang pemberian Andre dan mencabik gaun pengantinnya. Duh, sayang juga sih. Gaun satin berwarna sampanye berlapis lace dengan aksen Swarovski pada bagian dada dan ujung gaun. Gaun silhouette tanpa lengan sepanjang lutut (halaman 2), itu nyaris hancur di ujung gunting. Untungnya… Abby membatalkan rencana mencabik-cabik gaun itu dan malah membuat ide gila. Ia akan melakukan perjalanan dengan menggunakan gaun pengantin! 

Abby yakin keputusannya  untuk traveling dengan menggunakan gaun pengantin itu akan membuatnya move on. Ia akan traveling terus sampai kenangannya tentang Andre  benar-benar menghilang. Tempat yang didatanginya pun tak jauh dari Jakarta, yaitu Penang, Malaysia. Tentu saja di sepanjang perjalanan, ia menjadi pusat perhatian karena traveling menggunakan gaun pengantin. Syukurlah, gaun pengantinnya itu hanya selutut. Coba kalau panjang, berat, dan menyapu lantai. Pasti ribet. Untung juga bukan pakaian adat Indonesia yang banyak manik-maniknya. Pasti akan sangat tidak nyaman menggunakannya ke mana-mana. 

Traveling itu sendiri bukan kegiatan yang disukai Abby, karena dia pernah trauma tersasar di Istanbul, Turki saat masih duduk di bangku SMP. Justru itulah Abby memilih traveling dengan gaun pengantin, karena keduanya adalah hal yang tidak disukainya. Sanggupkah dia melakukan hal yang tidak disukainya selama beberapa waktu? Daan.. seperti novel romance mainstream lainnya, tentu saja akan ada pahlawan cinta yang ditemui Abby dalam perjalanan. Tidak tanggung-tanggung, sosok pahlawan ini seorang yang expert dalam hal traveling. Penulis buku traveling terkenal dengan nama pena: Quirky Traveler.

Mereka  bertemu sebentar di pesawat, tetapi sebenarnya Wira mengingat Abby karena gaun pengantin yang dikenakannya itu. Kemudian bertemu lagi di Penang ketika Abby tersasar. Wira mengantar Abby ke tempat tujuan. Sejak itulah mereka jadi sering traveling bersama. Novelis berusaha menjelaskan mengapa Abby dapat menerima kehadiran Wira yang orang asing itu untuk menemaninya traveling. Terlebih lagi kemudian Abby mengetahui bahwa Wira adalah si Quirky Traveler. Sebenarnya sih dalam kehidupan nyata, kita tidak boleh langsung percaya kepada orang asing dan mau begitu saja ditemani jalan-jalan karena ada banyak kasus kriminal yang terjadi diakibatkan oleh kecerobohan kita menerima tawaran orang asing, walaupun dia orang terkenal. Berhubung ini novel romance, sah-sah saja memunculkan seorang pahlawan secara tiba-tiba.

Ide novel ini sangat unik, dan itulah yang membedakan dari novel romance lain. Traveling menggunakan baju pengantin? Hohoho…. Kita pasti sulit membayangkan ada orang segila itu. Sebuah tindakan yang dilakukan oleh seorang mantan arsitek dan womenpreneur sukses sekelas Abby. Sosok kekanakan Abby pun banyak menghiasi adegan-adegan di dalam novel ini. Karakter Abby sangat kuat, dari awal sampai akhir, novelis konsisten menggambarkan karakter si tokoh utama yang labil, childish, dan tapi di sisi lain juga periang. 

Sedangkan Wira, adalah sosok lelaki yang menyenangkan, karena dia terlihat begitu mengerti Abby. Sosok lelaki yang diidamkan oleh semua pembaca novel romance. Sebagai seorang penulis terkenal, tak ada sedikit pun  kesombongan dalam diri Wira. Barangkali karena Wira sudah jatuh cinta kepada Abby sejak pandangan pertama. Kalau bukan karena cinta, rasanya aneh juga sih orang seperti Wira mau menemani Abby jalan-jalan dan terlihat begitu perhatian. 

Destinasi-destinasi wisata di Penang dan Singapura yang dikunjungi oleh Abby dan Wira boleh menjadi referensi pengetahuan kita, terutama bila kita belum pernah ke sana. Namun, dalam proses penceritaannya, novelis lebih banyak menggunakan cara bertutur “Tell” daripada “Show.” Sehingga alih-alih membayangkan seperti apa suasana di tempat-tempat tersebut, kita justru seperti sedang mendengarkan seorang pemandu wisata yang sedang mempromosikan tempat wisata tersebut. Bisa jadi itu karena novelis menggunakan sudut pandang orang pertama “Aku,” jadi terlihat sekali kecerewetan “Aku” menceritakan tempat-tempat yang didatanginya. Hasilnya, saya hanya dapat mengingat Bali-Bali Café sebagai tempat yang dipenuhi dengan lampu neon berwarna-warni di antara sekian banyak destinasi yang disebutkan di dalam novel. 

Contohnya dialog ini,
“Saranku, kalian harus masuk ke dome-nya! Dua-duanya! Bener-bener luar biasa dan keren banget. Sebelumnya aku nggak bisa bayangin hutan di pegunungan tropis masuk rumah kaca, tapi di Gardens by the Bay itu mungkin! Dan, dome satunya penuh dengan bunga dari seluruh dunia. Tapi, yang paling penting, OCBC Skyway! Kalian harus naik dan lihat taman itu dari atas.” (halaman186)

Kejutan yang luar biasa terjadi di bagian ending, yaitu ketika Andre akhirnya mengungkapkan alasan mengapa meninggalkan Abby. Walaupun saya tidak suka isu yang diangkat, tetapi rahasia Andre membedakan novel ini dengan novel romance lainnya. Setidaknya, dari awal saya tidak bisa menebak mengapa Andre meninggalkan Abby. 

Barangkali sedikit kekecewaan saya ada pada sosok Wira yang datar, terlalu sempurna, prince charming banget, dan tidak ada hal yang membuat saya melonjak kaget. Saya berharap ada sedikit lonjakan di ending pada sosok Wira, tapi sayangnya sudah tertebak. Memang, sosok seperti Wira ini idaman semua wanita. Dan itulah tujuan dari sebuah novel romance. Ingin pembacanya bahagia. Wira ini sengaja traveling ke luar negeri dulu, baru ke Indonesia supaya nanti dia bisa traveling bersama istrinya jikalau istrinya tidak suka traveling. Hem, sepertinya tidak ada perempuan yang tidak suka diajak traveling? Semua perempuan butuh  traveling! Setuju?! *apalagi kalau travelingnya bersama Wira :D

Sedangkan dari tokoh Abby, para gadis yang pernah patah hati bisa belajar tentang move on. Patah hati? No worry. Siapa tahu nantinya malah ketemu cowok yang lebih baik, seperti Wira. Masa satu tahun tenggelam dalam keterpurukan sudah dirasa cukup oleh Abby, karena nyatanya dia bisa menerima kehadiran lelaki lain, yaitu Wira. Tak terlihat adanya penolakan dari Abby ketika Wira mengajaknya traveling bersama. Jadi, sebenarnya saat mulai traveling itu, Abby sudah move on. Kalau patah hati, boleh juga mengambil hiburan seperti Abby: traveling? Ada hubungannya traveling dengan move on. Takut traveling? Ini ada quote menarik dari Wira:

“Traveling itu tentang keberanian menantang batasan yang kita punya. Keberanian buat ngelewatin tantangan yang kita temui selama traveling.” (halaman 86)
 
Berani traveling, berani move on.

Saya kasih bintang tiga untuk novel ini ya. Semoga sukses selalu untuk novelis dan novelnya.

8 komentar:

  1. Jadi, ke mana Andre menghilang? Gafatar? #eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang tepat, Yanti.. Coba lagi yaa hehe

      Hapus
  2. Ketika saya jalan2 di Red Square-Lapangan Merah di Moskow tampak beberapa pasangan memakai wedding dress berfoto ria di situ. Malah ada yang berjalan sambil menggendong pengantin perempuannya.
    Terima kasih resensinya yang apik dan jujur
    Salam hangat dari Jombang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, kalau di LN sudah biasa ya Pakde. Terima kasih sdh berkunjung :-)

      Hapus
  3. wah , makasih review bukunya, jadiu tahu ceritanya

    BalasHapus
  4. Jadi pengen kenalan dengan WIra di kehidupan nyata #Eh

    BalasHapus
  5. ga kebayang travelling pake baju pengantin, pasti jadi pusat perhatian di mana2 , apa gakk risih ya , bisa tetap enjoy travelingnya gitu? gak di jelasin ya mba model baju pengantinnya, *penasaran* biasanya kan model rok atau kain

    BalasHapus
  6. Traveling pakai baju pengantin haha... kreatif bangets

    BalasHapus