Senin, 09 Mei 2016

Javier: Kebangkitan Seorang Penulis

Judul: Javier, Cinta yang Tak Lagi Sederhana
Penulis: Jessica Huwae
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, November 2014
Jumlah Halaman: viii+264
ISBN: 978-602-291-076-3

Javier, seorang penulis yang sedang mengalami kebuntuan menulis akibat diceraikan oleh istrinya, Duma. Alasannya klasik, kehidupan penulis memang belum bisa dibanggakan. Sebagian penulis hidup bergelimangan harta dengan royalti bermilyar-milyar, tapi sebagian besar lainnya hidup seadanya. Menyambi menulis sana-sini, karena tak mungkin sekadar mengandalkan royalti buku. Persis seperti yang saya alami :-). Begitulah, Javier. Ia didesak editornya, Rosi, agar segera menyelesaikan penulisan naskah yang telah dibayarkan DP-nya. Kalau tidak selesai, ia harus mengembalikan uang DP tersebut, padahal sudah digunakan untuk keperluan segala macam.  Javier pun memutuskan untuk menyewa sebuah villa di Puncak agar dia bisa berkonsentrasi menyelesaikan naskah  bukunya. Di sana, ia menemukan peristiwa penting yang membuatnya berhasil menciptakan sebuah kisah novel yang menarik. 


Saya mendapatkan novel Javier ini dari tukaran buku di program Blind Date with a Book yang diadakan oleh @PoetStories dan @AfifahMazaya. Namanya juga kencan buta, saya hanya diberikan clue mengenai isi  buku ini sebanyak tiga kalimat. Saya tidak tahu bahwa novel yang akan saya dapatkan adalah Javier dan ternyata kehidupan tokohnya dekat dengan kehidupan saya: seorang penulis novel. Apa yang dirasakan Javier saat mengalami kebuntuan menulis, mirip dengan apa yang sering saya rasakan. Banyak quote menarik mengenai dunia tulis menulis yang bisa dicuplik sambil bergumam, "Ih, betul bangeeet...." 

Ada yang bilang, menjadi penulis itu kutukan. Masalahnya, menjadi penulis itu tidak segampang kelihatannya. Kau duduk, menatap layar komputer, dan berharap kata-kata akan segera membanjiri kepalamu. Kenyataannya tidak  begitu. Menulis itu butuh stamina panjang. (Halaman 13) 

Ada banyak penulis yang patah hati karena penjualan bukunya merosot. Lantas mereka beralih profesi, membuang bakat luar biasa setelah membaca ulasan yang panjangnya tidak lebih dari satu halaman kertas koran. (Halaman 19) 

Ada dua resep untuk menjadi penulis hebat. Miliki masa kecil yang tidak bahagia atau kisah cinta yang menyedihkan. (Halaman 28)

Saya rasa, Jessica Huwae sedang menceritakan perasaannya sendiri sebagai penulis. Buktinya, saya sebagai sesama penulis juga merasakan hal yang sama hehe.... Cara bertutur Jessica dalam novel ini lebih banyak didominasi narasi, sehingga terkesan lambat. Pada bab-bab awal, saya tertatih untuk membacanya. Apalagi kalau dibaca sambil tiduran, pasti hanya bisa dua halaman lalu zzzz.... Begitu memasuki pertengahan buku, baru deh saya mendapatkan cerita yang menarik dan membuat saya melek. Ada dua cerita di sini: cerita Javier yang sedang berusaha menyelesaikan novelnya dan cerita di dalam novel Javier itu. Menarik, bukan? Jessica menceritakan keduanya bergantian. 

Cerita Javier berjalan lambat, tentang bagaimana Jessica menceritakan hal-hal yang dilakukan Javier selama menyelesaikan novelnya. Agak janggal sih seorang lelaki seperti Javier suka minum cokelat panas. Biasanya, yang suka minum cokelat panas itu wanita. Kalau Javier minum kopi, itu lebih sesuai arus. Tapi ya tidak apa-apa, tidak masalah juga kalau seorang lelaki suka minum cokelat panas. Meski agak terasa membingungkan awalnya, karakter Javier mirip karakter seorang wanita. Mungkin karena penulisnya seorang wanita. Begitu masuk ke adegan saat-saat Javier mengkhayalkan kehidupannya yang dulu bersama Duma, baru terasa aura lelakinya. Begitu juga ketika datang seorang gadis muda, Tanaya, yang ternyata cucu pemilik villa. 

Cerita di dalam novel Javier mengisahkan percintaan Bernadus Tito dan Padma, seorang prajurit dan putri Jenderal Besar. Sudah bisa ditebak, kisah cinta terlarang itu ditentang mati-matian oleh Sang Jenderal. Padahal, Padma sudah mengandung anak Bernadus. Padma dipaksa menikah dengan lelaki yang dipandang lebih sesuai, sedangkan Bernardus dikirim ke Aceh. Bernadus berusaha memperjuangkan cintanya. Akhir kisah mereka itulah yang akan memberikan kejutan-kejutan dalam novel Javier ini. Sehingga prediksi saya meleset. Saya kira cerita ini bakal biasa saja, tapi penulis bisa memainkan suspense pada menjelang akhir kisah. 

Sebagai penulis, apa hikmah yang dapat diambil dari perjuangan Javier dalam menyelesaikan novelnya?
  1. Jangan menyerah pada kondisi bad mood atau writer block. Teruslah menulis, meski harus memaksakan duduk di depan laptop hingga berjam-jam. 
  2. Carilah seorang motivator, sebagaimana Rosi (Editor) dan Sausan (teman penulis Javier) yang terus memotivasi Javier untuk menyelesaikan naskahnya.
  3. Kalau perlu, carilah tempat menulis lain yang kondusif. Enaknya, Javier ini laki-laki yang belum punya keluarga, apalagi anak-anak, jadi bisa meluncur ke villa di Puncak dan menulis sepanjang hari hehehe. Kalau emak-emak seperti saya, harus bisa seperti Sausan yang dapat menulis di mana saja dan kapan saja.
  4. Jadilah pendengar yang baik, seperti Javier yang menyempatkan diri mendengarkan cerita Tanaya. Sebab, dari dengar-dengar itu kita bisa dapat ide menulis hihihi..... 
  5. Penulis juga harus jalan-jalan, jangan hanya mendekam di kamar. Kepala bisa berasap dan badan jadi pegal-pegal. Javier menyempatkan berlari mengelilingi perkebunan di Puncak setiap pagi sebelum menulis.
  6. Tak perlu dengarkan para kritikus yang kritikannya membuat semangat menulismu menurun tajam. Biarkan pengkritik menggonggong, penulis tetap berlalu. Kritik perlu sesekali, tapi tak usah diambil hati.
Selebihnya, baca novel ini dooong.... Agak janggal pada kovel bukunya yang masih memakai ilustrasi mesin ketik sedangkan sekarang para penulis sudah terbiasa menggunakan laptop. Mungkin biar terlihat klasik. Ah, semoga saya juga bisa segera menyelesaikan naskah novel saya, hikss....

2 komentar:

  1. Covernya bikin sempat ngiri latarnya jaman dulu. :D

    BalasHapus
  2. Saya udah lama nggak baca buku :(( Terakhir baca novel fiksi Kisah Dru, dan itupun bacanya setengah-setengah .. Kalau baca review gini, pengen baca-baca lagi :(

    BalasHapus