Minggu, 06 November 2016

Athirah: Jangan Curhat tentang Suami kepada Istri yang Dipoligami

Assalamualaikum. Lama tidak bersua dengan blog ini, karena memang belakangan ini sulit meluangkan waktu untuk membaca buku. Yah, gadget memang lebih "bernyawa" ya. Padahal buku adalah teman yang menenangkan.


Buku yang baru-baru ini berhasil saya tamatkan membacanya berjudul Athirah. Terbitan Noura Books. Deskripsi buku silakan dibaca di akhir tulisan ini. Buku ini sudah lama juga nongkrong di rak buku.

Bukunya cukup tebal, jadi saya sempat mikir bisa nggak ya baca sampai selesai? Dan memang saya bacanya nggak langsung selesai. Awal-awal agak lambat ceritanya, jadi ditaruh lagi di rak buku.

Novel ini tadinya saya nitip beli pada seorang teman bernama Santi Artanti. Kovernya masih edisi lama, bukan kover film. Sebulan lalu, novel ini sudah difilmkan. 

Bagaimana akhirnya saya bisa menyelesaikan membaca buku ini? Yah, sebenarnya membaca buku itu cukup diperlukan konsentrasi. Duduk tenang di bangku yang nyaman. Atau di atas ranjang empuk. Singkirkan gadget. 

Kalau belum punya furniture ya beli furniture Online di sini. Kemudian sediakan juga Kudapan yang enak-enak biar baca bukunya makin jos. Insya Allah selesai deh buku itu dibaca tanpa gangguan.

Namun, tentu saja faktor buku yang bagus sangat mendukung selesainya proses membaca. Ternyata... buku ini baguuss.... Buku yang disarikan dari kisah nyata pengalaman wakil presiden Jusuf Kalla bersama ibundanya, Athirah, dapat mengaduk-aduk emosi saya.

Maklum, penulisnya juga seorang penulis kawakan, Alberthiene Endah. Gaya menulis Alberthiene dapat membuat pembaca betah membaca bukunya. Dan temanya itu lhooo.... POLIGAMI.

Sesuai judulnya, Jangan Curhat tentang Suami kepada Istri yang Dipoligami. Beberapa Minggu lalu, saya mengaji di rumah seorang teman yang suaminya menikah lagi. Lalu dia menanyakan kondisi rumah saya, apakah sudah bersih? 

Maklum, rumah saya kan sering berantakan. Maksudnya dia nanya, kerjaan rumah udah beres semua belum? Ya saya bilang belum. Belum nyapu mainan anak-anak, ngepel, nyuci piring, masak, tapi udah ngacir ke rumah orang hehehe..

"Suami saya jarang bantuin. Pulangnya malam terus, kerjaannya banyak," curhat saya. 

Lalu saya ingat, ibu ini suaminya sudah menikah lagi. Jadi saya tanya, "kalau Ibu, suaminya kapan pulangnya?"

Nggak sensi banget ya, masa nanya kayak gitu ke istri yang Dipoligami? Eit, tapi teman saya ini "Maqom"nya sudah tinggi. Baginya, poligami bukan lagi penderitaan. Dia malah suka ketawa-ketawa kalau ngomongin suaminya yang poligami.

"Ya dia sih pulang sesukanya aja. Kadang seminggu sekali, sebulan sekali," katanya dengan wajah biasa saja.

JLEB! Ini bikin saya nggak enak hati. Suami baru pulang malam aja udah ngeluh. Lah ini ada yang suaminya jarang pulang. Tapi saya lanjutkan saja pertanyaannya.

"Suami Ibu nikah lagi pas anak-anak udah gede ya?" 

"Enggak, justru anak saya baru tiga, masih kecil-kecil. Dia sudah nikah lagi."

Anak ibu ini ada enam dan yang terkecil sudah SMA. Jadi bisa dikira-kira sudah berapa lama dia dipoligami?

"Kalau pulang ngasih duit?" Ih, kepo banget ya saya.

"Kadang-kadang ngasih, tapi biaya sekolah anak-anak juga saya yang nanggung. Dia nggak mau nyekolahin anak-anak. Saya kerja sampai tengah malam supaya anak-anak bisa sekolah."

Hebatnya, keenam anak ibu ini sekolah semua sampai sarjana! Meskipun pekerjaan ibu ini bukan kantoran ya. Kerja apa saja, dari jualan nasi uduk sampai bantu-bantu di rumah tetangga.

Dan ini pertanyaan paling kepo sedunia, saking citra yang terbentuk sudah sedemikian buruk. 

"Suami ibu orang PKS juga?"

"Bukan."

Naaaaah.... jadi yang poligami tidak selalu orang PKS yaaaaa.  Maklum deh, PKS itu kan selalu dijelekkan dengan citra Sapi, Poligami, dan sebagainya. Kenapa saya tanya begitu? Karena saya ikut pengajian PKS, ibu itu juga, jadi saya pikir suami ibu itu orang PKS makanya poligami. Ternyata bukan. 

Dan begitu pula dengan Bapak Haji Kalla, bapak dari Jusuf Kalla yang menikah lagi. Pastinya bukan orang PKS karena kita tahu partainya JK apa. Poligami memang sudah ada dari zaman nabi-nabi pun, tidak hanya di zaman PKS.

Athirah adalah istri pertama Haji Kalla, seorang pengusaha besar di Makassar. NV atau PT Haji Kalla ini sangat kuat jaringan bisnisnya sehingga Jusuf Kalla pun sudah belajar berbisnis sejak remaja.

Seperti kebanyakan laki-laki di pundak kejayaan, tahu-tahu Haji Kalla mengabarkan bahwa dia akan menikah lagi. Tanda-tandanya memang sudah terlihat. Dia sering berdandan khas lelaki puber.

Athirah, seorang istri penurut. Tak ada pemberontakan frontal. Terlalu tenang, malah. Tapi hatinya teraduk-aduk. Suaminya memberikan jatah. Hanya pulang ke rumah Athirah pada jam sarapan dan jam makan malam. Selebihnya, pulang ke rumah istri kedua.

Duuuh... sedihnyaaaa. Tapi walaupun pulangnya hanya pada jam makan, Athirah tetap bisa hamil berkali-kali setelah berpoligami. Sikap Athirah yang tenang, tidak marah, ini bikin saya geram. Ih, kok bisa begitu yaaaa? 

Kalau saya belum tentu bisa begitu. Athirah hanya curhat kepada Jusuf Kalla yang menggantikan tugas ayahnya. "Apakah Amma kalah, Jusuf?" Begitu tanyanya. Athirah merasa kalah karena dia hanya diam apa pun keputusan suaminya.

Sebagai istri, Athirah tetap melayani suaminya sama seperti sebelum dipoligami. Memasak makanan yang enak untuk suaminya, makanya suaminya pulang pas jam makan saja. 

Untuk mengelola amarahnya, Athirah berbisnis angkutan umum, kemudian jualan kain. Tak disangka, bisnisnya suksesss.... Athirah menjadi pebisnis wanita yang sukses, bahkan tabungan emasnya di lantai rumahnya pun digunakan untuk membantu suaminya yang kesulitan keuangan.

Coba kalau kita, pas suami kesulitan keuangan dan kita sukses, apakah kita bisa selegowo Athirah? Yang ada malah ketawa-ketawa nyukurin suami. "Makanya jangan kawin lagi. Tau rasa kan looo...."

Weisss.. jangan harapkan sikap itu ada pada Athirah. Dia tetap menjadi istri yang Solehah. Itulah mengapa dia bisa mendidik anak sesukses Jusuf Kalla. Bayangkan, suaminya hanya ada di rumah pada jam makan. Jadi hanya Athirah yang mendidik anak-anaknya.

Anak-anak Athirah pun mengeluhkan sikap ayahnya yang sudah tak punya waktu, bahkan sekadar berbincang dengan anak-anak. Lah iya, rumahnya dua, istrinya dua. Susah bagi waktunya. Tetapi Allah bersama dengan wanita yang dizalimi. Zalim? Apakah poligami itu zalim? 

Setidaknya itu menurut pendapat Haji Kalla. Saat kematian Athirah, Haji Kalla menangis dan mengakui kesalahannya yang sudah menduakan dan tidak memperhatikan Athirah. 

Poligami bisa jadi zalim jika ada ketidakadilan di dalamnya, tetapi soal zalim atau tidak, hanya Allah yang tahu. Yang bikin gemes itu, saat Athirah mendapat undangan pernikahan anak sahabat suaminya.

Sejak suaminya berpoligami, mereka jarang datang ke undangan pernikahan karena suaminya sibuk dengan istri kedua. Athirah selalu yang mewakili, datang sendiri. Begitu juga saat undangan pernikahan anak sahabat suaminya ini. Suaminya tidak mau datang.

Alasannya, mau liburan sekeluarga dengan istri kedua. Duh, periiiiihhh.... Athirah tidak enak kalau tidak datang, karena itu undangan dari sahabat suaminya. Akhirnya Athirah memutuskan datang bersama Jusuf Kalla. Tahu apa yang terjadi di sana?

Ternyata suaminya datang ke undangan itu bersama istri kedua! Membaca adegan yang ini bikin saya membayangkan suasananya, rasanya seperti ditusuk pedang berkali-kali.
Jadi, suami Athirah sudah berbohong. Itulah yang bikin Poligami bisa jadi zalim.

Kalau ingin merasa diaduk-aduk perasaannya, baca saja buku ini. Jangan harapkan dendam Athirah terbalas melalui perbuatan jahat, seperti meracun istri kedua atau memotong kelamin suami ya. Justru Athirah menuntaskan dendamnya dengan manis. Membuatnya menjadi sosok seorang istri dan ibu Solehah yang amat dicintai oleh suami dan anak-anaknya.

Jadi ingat, jangan curhat tentang Suami kepada Istri yang Dipoligami karena mereka lebih berat ujiannya.

Judul: Athirah
Penulis: Alberthiene Endah
Penerbit: Noura Books
ISBN: 978602781667
Halaman: 404
Cetakan: 1, Desember 2013

Kover di atas menggunakan cetakan terbaru yang sudah difilmkan. Supaya bisa lebih enak membaca buku tebal ini, coba deh bacanya sambil duduk di atas sofa empuk ini. Belinya di MatahariMall. Pasti bisa cepat selesai bacanya.



10 komentar:

  1. MasyaAllah, Bu Athirah hebat :')

    BalasHapus
  2. Keren banget. Sudah lama masuk dalam wish list book. Jadi nggak sabar pengen segera beli bukunya.

    BalasHapus
  3. AKu udah baca bukunya dan ada ketaguhan serta ketabahan ya mba

    BalasHapus
  4. aku udah baca bukunya, emang nyesek banget deh dan pas ending nyesel kan itu suaminya hahaa

    BalasHapus
  5. Ya Allah keren banget. Aku baca ini hatiku diaduk-aduk, kok ya ada wanita semulus Athirah???
    Suaminya bohong katanya mah liburan malah datang jg ke nikahan teman.
    Pulang cuma pas jam makan.
    Athirah diam saja. Gemes aku mbak gemes
    Pengin banting pintu!! *eeeh

    BalasHapus
  6. Poligami memang selalu sukses bikin hati teraduk-aduk ya Mba'.. :)
    Salut untuk yg bisa ikhlas.. :)

    BalasHapus
  7. Hanya bisa menarik napas. Hufht.......

    BalasHapus
  8. penasaran mau ikutan baca.. :)

    .. jadi yang mba leyla kepoin tadi athirah toh :D *BELAGAK GA NYAMBUNG

    BalasHapus
  9. bisa ikut merasakan sakitnya jadi Athirah

    BalasHapus
  10. Makasih mama Ella...jadi inget almarhumah nenekku... :'(.... Hiksss jadi baperrr

    BalasHapus