Senin, 16 Maret 2015

Checklist Persiapan Berhaji untuk Perempuan


Judul: Checkhlist Persiapan Berhaji untuk Perempuan
Penulis: Dra. Hj. Siti Noordayat MR. AKT
Penerbit: Stiletto Book
Tahun Terbit: Cetakan 1, Januari 2015
Jumlah Halaman: 165
ISBN: 978-602-7572-32-4

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. (QS 3: 97).


Menunaikan ibadah haji adalah cita-cita sebagian besar umat Islam di dunia. Mereka rela menabung dan menunggu bertahun-tahun demi bisa beribadah di depan kakbah. Sepanjang hidupnya, umat Islam beribadah dengan menghadap ke arah kiblat, yaitu ke arah kakbah. Alangkah indahnya bila kita bisa beribadah di depan kakbah dan menyempurnakan rukun Islam. Tak hanya itu, dalam ritual ibadah haji, kita menapaktilasi sejarah-sejarah kenabian yang menjadi tonggak awal berkembangnya agama Islam ke seluruh dunia. Dimulai dari pertemuan kembali Nabi Adam dan Siti Hawa di Jabal Nur, Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan Ismail di Mekkah, Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, dan sebagainya.

Dikatakan di dalam rukun Islam, bahwasanya ibadah haji hanya diwajibkan bagi umat Islam yang mampu. Mengapa demikian? Karena memang ibadah haji adalah ibadah yang berat. Tak hanya berat di ongkos, tapi juga di fisik. Terlebih bagi umat Islam yang tinggal di negara-negara yang jauh dari Mekkah, contohnya Indonesia. Paling tidak kita membutuhkan tak kurang dari Rp 50 juta untuk bisa berhaji. Lain halnya dengan umroh yang biasanya di bawah itu (untuk masa sekarang). Sebagian besar jamaah haji sudah berusia lanjut karena mereka harus menabung dulu selama bertahun-tahun. Kuota hajinya pun terbatas, dan Indonesia selalu kelebihan kuota sehingga kita harus antri. Jika tahun ini mendaftar haji ke Kementerian Agama, barangkali baru delapan tahun lagi kita bisa berangkat.  Kecuali bila menggunakan ONH Plus yang tentu saja biasanya berkali-kali lipat daripada ONH biasa.

Selain itu, jemaah haji harus melakukan ritual fisik yang tak kalah beratnya. Itulah mengapa, ibadah haji memerlukan kesiapan fisik, mental, spiritual, dan materi. Terutama untuk calon jemaah haji perempuan. Tahu sendiri kan, perempuan kalau bepergian bawaannya lebih repot daripada laki-laki. Apalagi pergi haji yang memakan waktu lebih dari satu bulan. Apa saja ya persiapan pergi haji bagi perempuan? Dra. Hj. Siti Noordayat MR. AKT menulis buku ini berdasarkan pengalamannya beribadah haji. Buku yang sangat komplit, menurut saya. Bahkan, hal-hal kecil tapi penting pun tak luput dimasukkan. Dari mulai persiapan sebelum berangkat, daftar barang bawaan, dan pengalaman-pengalaman selama berada di Mekkah dan Madinah.

Misalnya dalam bab yang berjudul Persiapan Sebelum Berangkat, apabila kita memiliki anak-anak yang masih sekolah, kita harus mempersiapkan keperluan mereka selama ditinggalkan. Memastikan anak-anak aman dengan pengasuh yang menggantikan tugas kita, memberitahu guru dan tetangga, memastikan anak-anak tetap memakan makanan bergizi, dan sebagainya. Sedangkan dalam bab Daftar Barang Bawaan, penulis menyebutkan barang-barang apa saja yang perlu dibawa oleh perempuan sampai yang sekecil-kecilnya, misalnya saja Ulekan (buat mengulek sambal atau bumbu) dan Dirijen 5 liter (pergi diisi beras, pulang diisi air zam-zam). Ini pengetahuan yang penting sekali, setidaknya bagi saya, insya Allah jika kelak saya dipanggil untuk menunaikan ibadah haji.

Di bab-bab berikutnya, penulis menceritakan pengalaman-pengalamannya dalam berhaji, yang bisa menjadi pelajaran bagi kita. Ada beberapa hal unik yang saya tandai,

Pertama, “Ada yang aneh di sini, kalau kita beli segelas air putih panas saja dengan gelas kosong harganya SAR 2, tetapi kalau kita beli air putih panas dengan gelas yang sudah kita isi Pop Mi harganya menjadi SAR 5, dan ini tidak bisa ditawar.” (halaman 88). Pengalaman penulis kelak bisa saya jadikan pegangan kalau mau beli Pop Mi di Mekkah, beli air putih panasnya saja, lalu Pop Mi-nya diisi sendiri setelah ada air putih panasnya. Tapi, daripada makan Pop Mi, mending makan makanan khas Arab mumpung sedang berada di sana.

Kedua, “Di Madinah, jemaah tinggal di hotel dengan fasilitas mesin cuci, almari es, serta kompor ataupun oven listrik. Apabila Anda ingin memanfaatkan mesin cuci, segeralah mencuci baju ketika Anda sampai di dalam kamar. Kenapa? Karena mesin cuci tersebut akan segera ditarik oleh petugas, jadi mesin tersebut hanya bertahan setengah hari saja. Setelah itu, petugas akan berpesan atau menawarkan jasa laundry.” (halaman 96). Membaca ini membuat saya tersenyum, membayangkan kelucuan petugas hotel yang mengambil kembali mesin cuci, padahal baru ditaruh setengah hari.

Ketiga, “Untuk salat di dalam masjid, sandal bisa dibawa masuk dengan dimasukkan di tas sandal maupun kantong plastic. Bisa juga diletakkan di rak sepatu di luar. Jangan meletakkan sandal sembarangan di lantai, asykar akan menggusur semua sandal serta sepatu tersebut ke satu tempat, bertumpuk menjadi satu. Bisa dibayangkan kerepotan yang menunggu kalau kita lalai.” (halaman 108). Wuiiih… saya pun tak terbayang bagaimana mencari sandal di antara tumpukan sandal yang menggunung. Informasi ini penting sekali diperhatikan bagi siapa pun yang mau berhaji.

Pada bab terakhir, penulis menyisipkan cerita tentang tempat-tempat bersejarah untuk diziarahi, seperti Taman Raudhah di Madinah, Masjid Qiblatain dengan dua kiblat, Jabal Tsur, tempat-tempat belanja dan kuliner, serta tempat-tempat yang tak kalah menariknya.

Subhanallah, membaca buku ini membuat saya termotivasi untuk segera membuka tabungan haji agar bisa berhaji di usia muda dan dengan tenaga yang masih kuat. Aamiin… semoga Allah Swt memudahkan langkah kita untuk memenuhi panggilan-Nya.






1 komentar:

  1. Resensi yang jujur dan ciamik
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus