Kamis, 11 Desember 2014

Menengok ke dalam Rumah 1000 Malaikat


Judul: Rumah Seribu Malaikat
Penulis: Yuli Badawi & Hermawan Aksan
Penerbit: Noura Books (PT Mizan Publika)
Tahun Terbit: Cetakan ke-1, Agustus 2014
Jumlah Halaman: xii+416
ISBN: 978-602-1306-48-2

“Barangsiapa yang ingin berdekatan dengan Allah, Allah itu berada di tengah-tengah kaum duafa.” (halaman 10).

Saat itu, Badawi sedang menunaikan ibadah haji, duduk bermunajat di depan Ka’bah. Melalui telepon, istrinya, Yuli, baru saja meminta izin agar mereka mengangkat seorang bayi terlantar sebagai anak kelima. Sebenarnya, sudah lama pasangan suami istri Yuli-Badawi menjadi orang tua asuh bagi puluhan anak, tapi bukan dengan mengangkatnya sebagai anak. Apalagi anak itu masih bayi, masih membutuhkan pengasuhan 24 jam. Badawi khawatir, kesehatan istrinya semakin menurun karena Yuli mengidap asma dan sering masuk rumah sakit. Setelah meminta petunjuk kepada Allah, Badawi pun mengiyakan permintaan istrinya.


Ternyata, mereka tak hanya mengangkat satu anak yang diberi nama “Azzam.” Tujuh bulan kemudian, seorang bayi kembali menghiasi rumah mereka yang sudah diisi dengan 4 anak kandung dan 1 anak angkat. Lalu, datang lagi bayi-bayi lain dengan beragam latar belakang, ada yang ditinggalkan ibunya di rumah dukun beranak, ada bayi anak pengamen yang ibunya tak sanggup merawat, ada bayi hasil pemerkosaan, ada bayi hasil pergaulan bebas, dan lain-lain hingga berjumlah 13 bayi. Total, pasangan suami istri Yuli dan Badawi mengasuh 17 anak di dalam rumah mereka, 4 anak kandung dan 13 anak angkat. Luar biasa!

Siapakah Yuli dan Badawi? Apakah mereka orang kaya sehingga berani mengasuh 13 anak terlantar? Tidak. Badawi adalah seorang karyawan di PT LEN Industri, sedangkan Yuli adalah seorang guru di SMA Negeri 18, Bandung. Mereka tinggal di perumahan Kopo Permai, Bandung, Jawa Barat. Penghasilan mereka biasa-biasa saja, tetapi tak sungkan berbagi kepada sesama. Mereka yakin, setiap anak membawa rejekinya masing-masing. Ketika membutuhkan uang untuk kebutuhan anak-anak itu, tahu-tahu saja ada orang yang memberikan uang. Misalnya, ketika salah satu bayi yang bernama Saina sakit dan dirawat selama sepuluh hari di Rumah Sakit, membutuhkan biaya Rp 598.000,- tahu-tahu ada orang yang memberikan amplop berisi uang Rp 600.000,- Banyak dermawan yang membantu biaya kebutuhan anak-anak itu, walaupun Yuli dan Badawi pernah menolak karena tak enak hati dan khawatir dianggap mengomersialkan anak-anak.

“Alhamdulillah, Dia yang menciptakan masalah, Dia yang memberi jalan keluar. Tugas kita hanya ikhlas, ikhtiar, dan pasrah kok.” (halaman 211)

Buku ini adalah sebagian dari kisah nyata Yuli dan Badawi bersama ke-13 anak angkatnya. Tidak semuanya masih tinggal bersama mereka, ada yang baru dititipkan sebentar, lalu diambil lagi. Yuli mengisahkan asal mula ke-13 anak angkatnya, serta suka dukanya mengasuh anak-anak itu. Dalam kondisi ekonomi yang tidak bisa disebut “kaya”, juga kesehatan Yuli yang sering keluar masuk rumah sakit karena asma, kebaikan Yuli dan Badawi patut diacungi jempol. Kepada anak-anak angkatnya, mereka tak menginginkan balas jasa. Sebab, apa yang mereka lakukan semata hanya untuk menolong anak-anak terlantar, didorong oleh rasa kemanusiaan yang tinggi, serta sebagai wujud syukur karena Yuli telah diberi keselamatan ketika melahirkan putri bungsunya, Salsa, dalam kondisi kesehatan yang sangat buruk.

Kepada anak asuhnya, Yuli berkata, “Jangan kamu membalas saya dengan uangmu. Biarlah itu Allah yang menerimanya sebagai amal saleh saya dan Bapak. Tapi kalau rezekimu berlebih, jangan  lupa keluarkan zakat dan membantu biaya sekolah adik-adikmu, itu saja.” (halaman 189).

Tentu saja Yuli dan Badawi tak semata-mata mudah dalam mengasuh anak-anak angkatnya. Ada saja anak-anak yang menguji kesabaran, entah itu suka minggat dari rumah, suka memukul, tidak suka belajar, dan sebagainya. Ujian itu justru menempa keduanya menjadi orangtua yang baik dan bertanggungjawab. Sebagai suami, Badawi juga sering menghibur istrinya ketika sedang mengurusi keperluan anak-anak, misalnya saat Yuli sedang mencuci popok kotor anak-anak, ia berkata, “Oh, Ummi sedang mencium bau surga, ya….” (halaman 404). Yuli pun tersenyum senang dan semakin termotivasi dalam mengurus ke-17 anaknya.

Luar biasa, keluarga ini. Semangat berbagi mereka, patut menjadi teladan bagi keluarga-keluarga lain.

“Luruskan niat setiap berbuat amal saleh, sehingga kau takkan peduli jika bantuanmu di dunia tak berbalas.” (halaman 189).

8 komentar:

  1. Subhanallah. Luar biasa sekali keluarga ini mbak.
    Aku yang baru membaca review ini, dibikin merinding, gimana kalay baca bukunya utuh

    BalasHapus
  2. Aku belom baca buku ini, tapi pernah tahu kalo buku ini inspiratif banget. Ini terbitan pertama, bulan Agustus ya.. brarti belom lama. Tapi bukannya dah cetak ulang ya?

    BalasHapus
  3. ini bukan buku baru sepertinya. Tapi aku nggak tahu kalau isinya seinspiratif ini. Terima kasih telah berbagi dik.

    BalasHapus
  4. Saya sepertinya pernah datang pas peluncuran buku plus talk show/bedah bukunya di IBF beberapa tahun lalu. Tapi kok terbitan baru, ya.. Apa beda pasangan? hehe..
    Keren ah, pasutri ini. Yakin dengan rezeki dari Allah (y)

    BalasHapus
  5. udah baca, top deh bu Yuli,,:)

    BalasHapus
  6. subhanallah, keluarga yang luar biasa !

    BalasHapus
  7. Saya langsung tertarik melihat judulnya.

    BalasHapus