Jumat, 11 Oktober 2013

Garis Perempuan

Judul: Garis Perempuan
Penulis: Sanie B. Kuncoro
Penerbit: Bentang Pustaka Populer, 2010
Halaman: 375
Harga: Rp 54.000

Empat wanita yang bersahabat dengan jalan hidup masing-masing, tetapi disatukan oleh benang merah: keperawanan. Seberapa penting keperawanan bagi seorang wanita? Bagi keempat wanita ini, keperawanan adalah hal yang penting, sesuai dengan tanah tempat mereka berpijak, tanah Jawa. Dimulai dengan sebuah acara adat untuk merayakan seorang gadis yang telah memasuki masa perawan: bancaan. Ditandai dengan keluarnya darah menstruasi. Keempat gadis itu: Ranting, Tawangsri, Gending, dan Zhang Mey, mendadak tertarik dengan tema keperawanan. 


"Apa artinya perawan, Bu?" tanya Ranting sembari mencuci beras di tenggok. 
"Artinya kau bukan anak-anak lagi, tapi telah menjadi perempuan muda. Siap dilamar, lalu kawin, punya anak" kata Simbok. (halaman 13).

"Bagaimana rasanya menjadi perawan?" tanya Gendhing ketika membantu ibunya mencuci pakaian di sumur kampung. 
"Walah, takon kok aneh-aneh, ono opo? [Astaga, pertanyaan kok aneh-aneh, ada apa?]" Ibu terkejut. (halaman 17)

"Mengapa harus menjadi perawan, Bunda?" tanya Tawangsri. 
"Tentu saja karena setiap perempuan adalah perawan." Bunda menatapnya sekilas. (halaman 23)

"Sia uk hao, Bobo [Selamat sore, Nenek]," Zhang Mey mengucapkan salam, "Jing wen [tolong tanya], kapan aku menjadi perawan?" tanya Zhang Mey kepada neneknya. 
"Apa?" sang Nenek justru kembali bertanya. (halaman 28)

Ini novel yang sarat pesan. Dituturkan dengan lembut oleh Sanie B. Kuncoro. Mengangkat tema yang paling krusial dalam dunia kewanitaan Indonesia: keperawanan. Keperaanan bagi seorang wanita Indonesia masih menjadi hal yang penting, bahkan bisa membeli kehidupan orang lain. Ketika dewasa, keempat gadis itu berjuang dalam mempertahankan keperawanan mereka dan atau mempersembahkannya kepada orang yang tepat. 

Ranting, terpaksa menyerahkan keperawanannya kepada lelaki tua yang menjadikannya istri kesekian, demi bisa membiayai pengobatan penyakit kanker ibunya. Gendhing nyaris menyerahkan keperawanannya kepada lelaki beristri atas nama cinta. Tawangsri, begitu terobsesi oleh sosok ayahnya yang jarang hadir di dalam kehidupannya. Maka, ketika dia melihat Jenggala begitu mencintai anak perempuannya, dia pun jatuh hati kepada lelaki yang ditinggal mati oleh istrinya itu. Namun, sejatinya dia hanya sedang mencari sosok ayah yang sudah lama hilang dari sisinya. Zhang Mey, anak keturunan Tionghoa, jatuh hati kepada pemuda iniren (pribumi) anak seorang pribumi yang strata sosialnya jauh berada di bawahnya. Orang tuanya sudah tentu melarang anaknya menautkan hati pada lelaki yang tak sebanding dengan mereka. 

Ada empat bagian cerita di dalam novel ini, kisah Ranting, Gendhing, Tawangsri, dan Zhang Mey diceritakan terpisah. Saya menikmati membaca novel ini karena diksi yang indah, konflik yang kompleks, dan cara Sanie membawa pembaca untuk larut ke dalam ceritanya. Walaupun ada beberapa prinsip pengarang yang bertentangan dengan saya, semisal pemakluman hubungan seks di luar nikah. Setidaknya, novel ini sanggup membuat saya menghabiskan lembarannya meski terbilang cukup tebal, dan menyisakan kesan di hati. Saya jadi ingin membaca novel-novel Sanie yang lain :-)


2 komentar:

  1. Temanya sederhana ya mbak Leyla. Tapi kedalamannya kayaknya tak sesederhana temanya ^^ Masuk wishlist nih

    BalasHapus