Minggu, 06 Oktober 2013

The Nine Lessons

Judul: The Nine Lessons
Penulis: Kevin Alan Milne
Penerbit: Qanita, Mei 2011
Penerjemah: Maria Renata Wilson Perdana
Halaman: 323

Adakah pelajaran kehidupan pada setiap hentakan stik golf? London White memberikan sembilan pelajaran kehidupan yang diambil dari ayunan stik golfnya. 

Jika kau meminta Tuhan memperbaiki pukulanmu sebelum terjadi, artinya kau meminta bantuan pihak ketiga, dan kau selayaknya dihukum sesuai dengan peraturan dalam permainan golf. 
(Henry Longhurst) 

Kutipan-kutipan kalimat seperti di atas, mengawali cerita di tiap bab. Kutipan-kutipan dari pegolf internasional yang mengandung makna sesuai dengan cerita yang akan digulirkan. August White, seorang dokter hewan, sudah menikah selama tujuh tahun dengan Erin. Mereka berkomitmen untuk TIDAK memiliki anak, karena August merasa tidak siap menjadi ayah. Hewan peliharaan, baginya sudah cukup untuk menggantikan kehadiran anak.

Erin, pada awalnya menyetujui komitmen itu, tetapi lama-lama dia merindukan kehadiran anak. Dan setelah tujuh tahun menikah, dia hamil! August sangat berang, mengira bahwa Erin sengaja hamil untuk melanggar komitmen. Tak seperti calon  bapak lainnya yang begitu bahagia menerima kabar kehamilan istrinya, August malah nyaris depresi, tak dapat membayangkan dirinya akan menjadi ayah.

Bab pertama mengisahkan kemarahan August yang tidak ingin memiliki anak disertai ketakutan Erin menghadapi reaksi suaminya. Sampai di sini, saya mengeryitkan kening. Eh, ada ya pasangan menikah yang tidak mau punya anak? Secara naluriah, Erin ingin memiliki anak tetapi harus patuh terhadap janji yang sudah mereka ikrarkan sebelum menikah: Tidak Akan Punya Anak. Erin bersyukur terhadap ketidaksempurnaan alat kontrasepsi yang dia gunakan, sehingga akhirnya dia hamil! Di situlah kuasa Tuhan bekerja, bahwa sekuat apa pun manusia berencana, Tuhan yang menentukan.

Namun, kebahagiaannya itu berbanding terbalik dengan suaminya. Suaminya justru menyuruhnya mencari orang tua angkat untuk anak mereka! Erin emosi sampai menampar suaminya dan sejak itu pernikahan mereka dalam masalah. August mengonsultasikan permasalahannya kepada London White, bapaknya, yang sudah lama hidup sendiri karena ibunya sudah meninggal. Bapaknya adalah seorang pelatih golf. Bukannya diberikan masukan yang berarti, London justru mengajak August untuk bermain golf, olahraga yang sangat dibenci oleh Augusts, sekalipun bapaknya seorang pelatih golf.

August punya alasan sendiri mengapa dia tak ingin mempunyai anak. Kekecewaannya terhadap London yang sibuk melatih golf dan mengabaikan masa kecilnya (padahal, ibunya juga sedang sakit kanker dan meninggal ketika August masih balita),  membuatnya tak ingin menjadi ayah karena tak ingin mengecewakan anaknya kelak. Lalu, bagaimana jika Erin sudah mengandung? Siapkah dia menjadi ayah? 

Novel ini mengandung banyak pembelajaran yang diambil dari setiap ayunan stik golf August. August terpaksa mengikuti permainan golf bapaknya (meski dia tak bisa) demi mendapatkan pelajaran yang kata London, akan dia peroleh dari setiap ayunan stik golfnya. London merasa harus mengajari anaknya bermain golf, karena selama ini dia sudah mengajari anak orang lain. 

Tak heran bila di dalam novel ini akan berhamburan istilah-istilah dalam pergoflan, karena memang settingnya di arena golf, selain di rumah Erin dan di klinik praktek August. Membaca novel ini membutuhkan konsentrasi khusus pada awalnya, karena saya agak jenuh dengan jalan cerita yang lamban. Cerita baru terasa menarik menjelang pertengahan, ketika konflik antara August dan Erin memuncak. Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari kutipan-kutipan pengarang. Terutama makna menjadi orang tua. Novel yang inspiratif bagi siapa pun yang ingin menjadi orang tua.

3 komentar:

  1. Pergoflan maksudnya istilah dalam golf ya mbak. Hu..hu..makin tertinggal aja nih aku ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tertinggal ngeresensinya mbak Leyla

      Hapus