Selasa, 08 April 2014

Last Roommate: Teman Berbagi Apartemen


Judul: Last Roommate, Teman Berbagi Apartement
Penulis: Theresia Anik
Penerbit: Stiletto
Jumlah Halaman: 203 halaman
Tahun Terbit: Juni 2012
ISBN:  978-602-7572-05-1                         

“Nggak susah untuk bikin dirimu bahagia. Kamu hanya harus menerima dirimu apa adanya dan berkembang dengan segala kondisi itu.” (halaman 180)

Sinopsis:
Renata Camelia, seorang perempuan biasa-biasa saja. Penampilannya biasa (kalau tidak bisa dibilang membosankan), kondisi keuangannya juga biasa (metafor dari pas-pasan), dan dia belum punya pacar di usia matang. Benar-benar terlalu biasa. Yang luar biasa adalah rekornya berganti teman seapartemen hingga empat kali dalam dua tahun. Beruntung Renata menemukan teman lebih dari apa yang diharapkannya. Seorang cowok bernama Nesta. Dia merasa bebas di depan Nesta karena Nesta adalah seorang gay. Tapi tunggu, apakah benar Nesta seorang gay seperti pengakuannya?


Tema LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) seakan menjadi tema popular di sebagian novel-novel tanah air. Entah bagaimana, keberadaan mereka seakan tengah dikampanyekan oleh sebagian penulis Indonesia agar diakui dan disamakan perlakuannya. Sudah tentu jika ditinjau dari ajaran agama apa pun, LGBT adalah suatu dosa. Terutama di dalam Islam, perilaku Kaum Sodom disinyalir menjadi penyebab kehancuran kaum itu oleh suatu bencana dari langit. Kaum Sodom adalah pelaku homoseksual, penyuka sesama jenis. Sehingga istilah Sodomi menjadi istilah lazim untuk menyebut sebuah hubungan melalui anus, yang dilakukan oleh kaum homoseksual (terutama lelaki dengan lelaki).

Apakah dengan diangkatnya tema-tema LGBT, termasuk di novel ini, yang sudah tentu memihak pada LGBT itu, dapat membenarkan hubungan sesama jenis? Ah, kenapa review saya jadi serius begini? Apakah novelnya juga serius? Tidak, kok. Ini novel yang ringan sekali, sesuai dengan genre yang diusungnya: CHICKLIT. Novel ini menyasar untuk pembaca wanita lajang berusia 20-40 tahun, yang sedang sibuk-sibuknya berkarir dan mencari jodoh.

Novel ini saya baca dalam sekali duduk. Kisah hidup Renata diceritakan dengan lancar dan mengalir, diselingi beberapa adegan lucu. Novel ini cukup menghibur. Sebagaimana novel chicklit lainnya, permasalahan yang diangkat adalah kehidupan Renata dalam karir dan percintaannya. Berdasarkan judulnya, masalah yang paling utama adalah sulitnya Renata mencari teman berbagi apartemen, padahal dia harus mendapatkannya karena gajinya sudah tidak cukup untuk membayar satu kamar apartemen seorang diri.  

Satu per satu teman berbagi apartemen pun datang, tetapi satu per satu dari mereka harus hengkang. Semuanya memiliki masalah psikologis yang tidak klop dengan Renata, hingga datanglah Nesta yang walaupun gay, tapi baik hati. Belakangan ada kejutan-kejutan lain yang masih ada sangkut pautnya dengan LGBT. Hingga akhirnya Renata berkesimpulan bahwa kebahagiaan itu adalah manakala kita dapat menerima keadaan diri kita, apa pun itu, walaupun bila kita menyukai sesama jenis. Hmm….

Terlepas dari ceritanya yang asyik, saya tetap tidak setuju dengan kesimpulan Renata. Hidup memang harus bahagia, tapi ada kalanya dalam hidup ini kita harus berkorban. Jika Renata tidak bisa menerima kehadiran Scarlett yang telah mengaborsi janinnya, mengapa dia bisa menerima pilihan hidup Nesta sebagai gay? Padahal, keduanya sama saja berdosa. Anehnya lagi, Renata juga tidak bisa menerima kehadiran Andrea yang penjilat, padahal menurut saya, sifat itu masih mendinglah daripada pacaran dengan sesama jenis sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat-sahabat Renata. Apalagi membaca dialog antara sahabat-sahabat Renata yang lesbian itu, tentang pilihan mereka, bahkan sampai rencana mengadopsi anak, yang diucapkan dengan begitu ringannya seakan-akan pilihan mereka itu normal dan wajar, semakin membuat saya geli sendiri. Baiklah, ini memang dari sudut pandang saya yang masih taat pada aturan agama. Permasalahan LGBT bukan semata hak asasi manusia lho, menurut saya, tapi sudah masuk ranah agama bahwa itu HARAM. Bagi saya, sesuatu yang haram tidak bisa ditawar lagi.

Saya yakin kaum LGBT itu masih bisa disembuhkan dengan berobat ke psikiater dan memperdalam agama. Sebab, normalnya, manusia itu berpasang-pasangan berlainan jenis. Buktinya, kaum LGBT tidak akan bisa memiliki anak, beregenerasi kalau bukan melalui Bank Spermalah, adopsilah. Bank Sperma untuk kaum lesbian, pakai sperma siapa? Laki-laki beneran, kan? Atau kalau gay, pakai sewa rahim, rahim siapa? Perempuan beneran, kan? Nah, jadi normalnya tarik menarik antara kutub X dan Y, bukan kutub X dan X. Magnet saja tahu, masa manusia tidak? Bukankah manusia lebih pandai daripada magnet?

Ngomong apa sih saya ini? Secara keseluruhan, novel ini enak dibaca. Ada juga bagian yang memberikan muatan positif, yaitu bagaimana Renata menerima dirinya sendiri. Sebab, dia tidak percaya diri dengan semua hal biasa yang ada pada dirinya. Untuk bagian ini, saya setuju banget. Setiap manusia memiliki kelebihan masing-masing. Tidak ada yang biasa saja.  






3 komentar:

  1. hihihi.... magnet aja tauu ya

    BalasHapus
  2. sejujurnya, novel ini asyiiiik banget dibacanya. makanya saya jadi miris dengan ide LGBTnya

    BalasHapus