Kamis, 26 Juni 2014

Bercinta di Taman Surga


Judul: Bercinta di Taman Surga
Penulis: M. Muttaqwiati
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, September 2007
Jumlah Halaman: 104 halaman; 20, 5 cm
ISBN: 978-979-15953-7-7

Maukah kita dipertemukan kembali dengan suami atau istri kita di surga? Bagi yang mencintai pasangannya dengan sungguh-sungguh, tentu penawaran itu sangat menarik. Kita tidak hanya bisa bersatu di dunia, tapi juga di surga. Masalahnya, sekarang ini, jangankan ketemu di surga, menikah di dunia saja tidak berlangsung lama. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh adik ipar saya di pengadilan negeri Garut, Jawa Barat, tentang tingkat perceraian di Garut, jumlah perceraian semakin meningkat dan lebih banyak si penggugat itu berasal dari pihak istri. Wow!



Itu baru di Garut. Di televisi saja, publik figure banyak yang mencontohnya pernikahan mereka yang gagal dan kebanyakan si penggugat juga dari pihak istri. Wah, kenapa ya? Kalau di Garut, penyebab perceraian paling banyak adalah dari faktor ekonomi, misalnya si suami pengangguran atau gajinya tidak mencukupi kebutuhan hidup sehingga istrinya minta cerai. Itu membuktikan betapa masyarakat kita sudah diperbudak oleh ekonomi. Suami kurang duit, istri minta cerai. Naudzubillahimindzalik.


Untuk ukuran public figure, kelihatannya masalah ekonomi juga menjadi penyebab terbesar. Saya belum melakukan survey, sih, tapi dari sekian banyak kasus, ketika istri sudah berada di puncak karir sementara suaminya masih di bawah, si istri pun menggugat cerai suaminya. Pertanda para istri mulai banyak yang membangkang kepada suaminya atau suami yang tidak bisa bekerja lebih giat agar bisa melampaui istrinya? Wallahu’alam.

Penulis buku ini, Mbak Muttaqwiati, memberikan lima langkah agar kita bisa bercinta di surga bersama pasangan yang sudah kita pilih. Jangan dilihat saat hubungan sudah renggang, tapi coba diingat lagi ketika kita masih menjadi pengantin baru. Berpisah lima menit saja rasanya seperti bertahun-tahun? Kenapa perasaan itu tidak dipelihara terus sampai maut menjemput, sehingga kita berharap tetap dipersatukan dengan pasangan di surga nanti? Alangkah indahnya bukan kalau kita bisa tetap bersama-sama dengan suami atau istri yang sudah kita pilih dengan kesadaran sendiri?

Langkah pertama adalah menyadari bahwa cinta adalah kegembiraan. Iman Islam yang kita yakini adalah wujud cinta kepada Allah Swt. Menikah dengan pasangan kita pun hendaknya didasari oleh cinta kepada Allah. Cinta itu akan menghasilkan kegembiraan di dalam hati. Bayangkan bagaimana rasanya kalau rasa cinta itu bisa kita pelihara terus sampai ke surga?

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan. Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga) dan kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka….” (QS. At Tur: 21-28)

Subhanallah… pasti luar biasa rasanya dapat bercinta dengan semua orang yang kita cintai (suami, istri, anak,  cucu, dsb) dan dipertemukan kembali di surga.

Langkah kedua adalah menuang bahasa cinta. Penulis menceritakan beberapa kasus pernikahan yang nyaris gagal karena suami istri tidak bisa membahasakan cinta. Suami yang tidak romantis, istri yang tidak perhatian. Padahal, apa sih susahnya bilang “I love you, Mam… I love you, Pah…. Kamu cantik hari ini… Kamu ganteng deh….” Dan lain sebagainya. Selain bahasa verbal, juga ada bahasa sentuhan, bahasa hadiah, dan bahasa layanan. Semuanya disertai contoh kasus yang bisa kita pelajari.

Langkah ketiga adalah menuang cemburu. Cemburu itu ternyata penting dalam hubungan pernikahan. Suami dan istri harus memiliki rasa cemburu terhadap pasangannya, tapi juga tidak boleh berlebihan. Tidak punya cemburu akan membuat pasangan merasa tidak dicintai.  Terlalu banyak cemburu akan membuat pasangan jengah. Jadi kudu seimbang nih cemburunya. Penulis juga memberikan contoh kasus mengenai bahayanya tak memiliki cemburu dan berlebihan cemburu. Menariknya, penulis juga memberikan solusi memunculkan rasa cemburu terhadap pasangan dan solusi mengendalikan rasa cemburu yang berlebihan.

Langkah keempat adalah bersama menapak ketinggian ruhiyah. Untuk bisa bersama-sama ke surga, suami istri mesti saling bahu membahu menolong pasangannya dalam hal ruhiyah (agama). “Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa  yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6). Jadi, suami istri jangan menjadi soleh/ solehah sendiri-sendiri, melainkan harus bersama dengan pasangannya. Hal itu bisa dibangun dengan melakukan ibadah bersama-sama: salat berjamaah sesekali (karena lelaki harus salat di masjid), membaca Al Quran bersama-sama, salat malam bersama-sama, dan lain sebagainya. Suami harus menegur istrinya bila salah, dan begitu juga istri kepada suaminya. Penulis juga menjabarkan cara untuk menggapai ketinggian ruhani.

Langkah kelima adalah jika mesti gesekan, yaitu apabila terjadi konflik yang besar di dalam rumah tangga. Rumah tangga akan selalu diuji dari ujian yang kecil sampai besar. Penulis memberikan beberapa cara yang bisa ditempuh apabila mengalami gesekan dalam rumah tangga. Walaupun perceraian dibolehkan, tetap saja jalan terbaik adalah tetap bersama dengan mengupayakan perdamaian di antara pasangan suami istri.

Buku ini sangat penting dibaca oleh semua orang yang  hendak menikah maupun sudah menikah untuk mengevaluasi lagi pernikahannya. Tak hanya berisi paparan penulisnya, tapi juga contoh-contoh teladan dari kehidupan pernikahan Rasulullah Saw, disertai ayat-ayat Al Quran dan hadist yang sahih. Contoh-contoh kasus yang diberikan membuat buku ini tak sekadar teori, melainkan memang sudah ada kejadiannya di dunia nyata. Barangkali kekurangannya hanya kurang tebal, karena ini buku yang  lumayan tipis. Beberapa cerita nabawiyah juga sudah banyak diulas di buku-buku lain. Entah apakah memang tidak ada cerita teladan lain yang bisa digali dari kehidupan Rasulullah dan salafussalih atau penulisnya kurang referensi? Saya rasa, masih banyak cerita teladan lainnya yang bisa ditambahkan ke dalam buku ini untuk melengkapi dalil. Ada baiknya lagi bila ditambahkan kisah-kisah inspiratif dari pasangan suami istri yang bahu membahu menggapai surga bersama-sama, karena di buku ini lebih banyak cerita yang mengenaskan daripada yang bisa dijadikan teladan.




1 komentar: