Kamis, 26 Juni 2014

The Road to The Empire: Kisah Pangeran Muslim Mongolia


Judul: The Road to The Empire
Penulis: Sinta Yudisia
Penerbit: PT. Lingkar Pena Kreativa
Tahun Terbit: Cetakan pertama, Desember 2008
Jumlah Halaman: 586 hal; 20,5 cm.
ISBN: 979-1367-59-2

Sinopsis: Takudar, Arghun. Buzun, adalah tiga putra Tugluq Timur Khan, penguasa kekaisaran Mongolia, keturunan Jenghiz Khan. Setelah pembunuhan terhadap Kaisar dan permaisurinya, Takudar, Pangeran Kesatu, pewaris sah tahta kekaisaran, menghilang. Arghun Khan, Pangeran Kedua menjadi Kaisar dengan penuh konspirasi atas bantuan Albuqa Khan, orang kepercayaannya. Dan Buzun, Pangeran Ketiga, tetap mengabdi di kekaisaran dengan memelihara rindu dan ingin tahu ke mana hilangnya Takudar.


Sinopsisnya sebenarnya panjang, tapi nanti dijabarkan lagi deh di reviewnya hehe…. Suatu prestasi lagi untuk saya, bisa menyelesaikan membaca novel sejarah ini (yang kebenarannya masih harus ditelusuri lagi ya). Entah kenapa, Mbak Sinta ini sangat terobsesi mengangkat kisah tentang kekaisaran Mongolia. Sebelumnya, sudah ada novel pertama yang juga mengangkat tema kekaisaran Mongolia.

Pada zaman dahulu, di masa kekhalifahan Islam, Mongolia adalah negara besar yang kejam dan barbar. Barangkali kalau sekarang itu ya macam Amerika itulah. Demi luas wilayah, kekaisaran Mongolia di bawah pimpinan Jenghiz Khan menaklukkan daerah-daerah di sekitarnya dengan sekaligus membunuhi penduduknya tanpa ampun. Baghdad, sebagai pusat ilmu pengetahuan masa itu, pun mengalami kekejaman Mongolia. Sungai Nil pun menghitam karena tinta-tinta dari koleksi buku di perpustakaan yang dibuang ke sungai, saking banyaknya buku itu. Mongolia tak mengenal buku, mereka hanya tahu kekerasan.

Di masa sekarang, negara Mongolia nyaris tak terdengar gaungnya. Anak-anak generasi sekarang pasti banyak yang gak tahu di mana sih Mongolia itu? Mereka taunya Amerika dan Korea Selatan, hehehe…. Mungkin, itulah imbas dari sistem pemerintahan Mongolia atau tabiat asli penduduk Mongolia yang khas pedesaan: beternak dan berladang. Kalau dulu mereka bisa terkenal karena kekerasan, sekarang kan gak bisa lagi karena sudah ada Amerika yang lebih kuat. Dari membaca buku ini juga bisa ditarik kesimpulan kenapa Mongolia ini sekarang kehilangan jejaknya, karena generasi mereka yang terdahulu gak menganggap penting pendidikan, jadinya kehidupan mereka gak ada kemajuan. Kalaupun mau berperang, udah gak sesuai zamannya lagi. Negara lain sudah mengusai peralatan perang yang lebih maju, Mongolia?

Apa pun itu, membaca novel ini bisa sedikitnya membuka wawasan kita mengenai kekaisaran Mongolia di masa lampau, walaupun imajinasi penulis tentunya lebih mendominasi. Penulisnya, Sinta Yudisia, tak diragukan lagi kepiawaiannya dalam mengolah konflik perebutan kekuasaan yang mirip-mirip dengan kisah-kisah kolosal drama Korea dan China. Apa saja sih yang mirip?

Pertama, pembunuhan terhadap Kaisar Tugluq Timur Khan dan permaisurinya yang dilakukan oleh orang dalam kekaisaran  yang mengetahui kelemahan kaisar.
Kedua, persaingan dua kakak beradik dalam menduduki tahta kekaisaran Mongo: Takudar dan Arghun didukung oleh orang kepercayaan yang licik, Albuqa Khan.
Ketiga, kehadiran selir Han Shiang (salah satu selir Kaisar Tuqlug Timur Khan) yang licik, cantik, dan haus kekuasaan. Sosok selir yang demikian juga sering diangkat di dalam drama kolosal Korea dan China.
Keempat, persaingan menjadi permaisuri Arghun Khan oleh anak-anak Han Siang dan Albuqa Khan. Kalau yang ini mirip kisah Cinderella juga, hehe…. Yang mengejutkan, Han Shiang menjodohkan anaknya dengan Arghun Khan yang sebenarnya masih sedarah (adik kakak lain ibu tapi satu ayah). Zaman dulu, pernikahan incest semacam itu rupanya tak masalah.

Takudar yang dilarikan oleh dayangnya, Uchatadara (Almamuchi), kemudian diselamatkan oleh kelompok muslim dari Pesantren Babussalam. Kelompok muslim ini memang memiliki maksud tersembunyi dengan menyelamatkan Takudar, yaitu hendak menjadikan Takudar sebagai kaisar  Mongolia yang arif bijaksana, tidak menyelesaikan masalah dengan kekerasan, semua itu demi eksistensi kelompok muslim yang terancam oleh jalan darah Arghun Khan. Rasyiduddin, sahabat Takudar, berhasil memasukkan nilai-nilai keislaman ke dalam jiwa Takudar.

Usaha perebutan tahta kekaisaran pun disusun. Dalam suatu perjalanan untuk menaklukkan Jerusalem, kelompok Takudar berhasil mengalahkan Arghun Khan, Takudar berhasil naik takhta, meskipun adiknya, Buzun, harus mati di tangan Arghun. Takudar yang lemah lembut tak bisa membunuh Arghun dan memenjarakannya di Bayarkhuu. Kelak hal itu akan menjadi bumerang baginya.

Di antara kisah konspirasi perebutan tahta kaisar, terselip kisah romantika antara Takudar dan Almamuchi. Ironisnya, Almamuchi justru diperkosa oleh Arghun Khan dan hamil. Jauh sebelum itu, Arghun Khan sudah mengadakan seleksi pemilihan permaisuri di mana Jayjuni, putri Albuqa Khan, dan Bayduni, putri Han Shiang, masuk menjadi finalis. Sebenarnya, Arghun Khan lebih menyukai Urghana, tapi gadis itu memilih Buzun.

Bagi Anda yang menyukai fiksi sejarah, novel ini bisa dijadikan bahan bacaan yang menarik. Jalan ceritanya pun filmis, sehingga cocok untuk difilmkan. Diksi yang digunakan oleh Sinta Yudisia pun tak diragukan lagi, kaya akan bahasa tapi tetap enak dinikmati. Kita juga diberikan beberapa istilah dalam bahasa Mongol. Yang paling melekat di benak saya adalah “airag,” untuk khamr, minuman memabukkan, saking tentara Mongol ini suka minum-minum. Kata-kata yang lain cukup membuat saya berkerut-kerut bingung, ada yang diberikan artinya di catatan kaki, tapi ada juga yang terlewat. Bahasa Mongol ini seperti campuran bahasa Rusia dan Cina, jadi sulit dilafalkan hehe….

Hanya saja, ada banyak penghamburan informasi yang membuat jenuh. Ada banyak narasi yang panjang-panjang. Ada juga banyak dialog yang panjang-panjang (satu orang ngomong hingga berparagraf-paragraf dan tidak dipotong). Hal itu cukup melelahkan pembaca, apalagi untuk novel tebal ini. Barangkali itu memang ciri khas Sinta Yudisia, karena di novel berikutnya, Tahta Awan, ciri khas itu masih akan tetap ada.

2 komentar: