Kamis, 26 Juni 2014

Takhta Awan: (Akhir Kisah) Pangeran Muslim Mongolia?


Judul: Takhta Awan
Penulis: Sinta Yudisia
Penerbit: Lingkar Pena Kreativa
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Mei 2011
Jumlah Halaman: 572 hlm; 20,5 cm.
ISBN: 978-602-885-139-8

Setelah membaca The Road to Empire, tentunya dilanjutkan dengan membaca Tahta Awan. Kebanyakan novel sejarah memang tidak bisa tipis halamannya, karena ada banyak kisah dan konflik. Takudar berhasil merebut tahta Arghun Khan dan memenjarakan adiknya di penjara terkejam, Bayarkhuu, tapi Takudar masih sering membesuk adiknya itu. Kelompok muslim berpendapat, sikap Takudar itu salah. Mestinya Takudar menghukum mati Arghun, karena bisa jadi kelak Arghun membalas dendam. Takudar, sang kaisar yang lemah lembut, tak bisa bersikap kejam. Bahkan, pejabat-pejabat kekaisaran Arghun pun masih ada yang dipekerjakan, belakangan hal itu memang menjadi bumerang. Mereka adalah Urjagal, Inalchuk, Yejugai, dan Jebei kelak akan mengadakan konspirasi pembunuhan Takudar dan mengembalikan Arghun Khan ke tahtanya.


Almamuchi melahirkan anak Arghun Khan dan tinggal bersama Silaihua, pelayannya, hingga Rasyiduddin memanggilnya karena mereka akan menyelamatkan Takudar. Mata-mata telah mencium adanya upaya penggulingan kekaisaran Takudar dan agaknya Takudar memang belum siap menjadi pemimpin. Takudar terlalu baik hati, lemah, dan bijaksana. Ia berhasil mengajarkan rakyat Mongolia agar tidak lagi gemar berperang, meningkatkan perladangan dan perdagangan, serta menuntut ilmu. Sayangnya, hal itu membuat ilmu pedangnya nyaris hilang.

Han Shian berada di balik upaya penggulingan Takudar. Upaya itupun berhasil melalui acara perburuan binatang, Takudar nyaris terbunuh tapi ditolong oleh prajurit binaan Nergui yang dikomando oleh Erjhagal. Sampai akhir kisah belum diketahui ke pihak mana Erjhagal ini, mengapa dia menolong Takudar. Sementara Rasyiduddin harus tewas di tangan Tomorbataar, Panglima kepercayaan Takudar, yang membelot ke Arghun Khan.

Jadi, Tahta Awan ini lebih banyak berkisah tentang proses penggulingan kekaisaran Takudar dan penyelamatan Takudar oleh Rasyiduddin. Tapi, bagi saya, sekuel kedua ini lebih menarik daripada yang pertama, karena karakter setiap tokohnya terlihat kuat dan memancing emosi. Siapa sajakah mereka?

Takudar. Hmm… kaisar yang satu ini sungguh-sungguh bikin emosi pembaca karena “kelembekannya.” Dia memang lemah lembut, cerdas, soleh, dan bijaksana, tapi nyaris tidak bisa bersikap tegas, terutama kepada orang-orang yang bisa mengancam kekuasaannya. Dia tetap mempekerjakan pejabat-pejabat yang kelak akan berkonspirasi untuk menggulingkannya. Mestinya, dia bisa menyeleksi siapa saja yang layak menjabat. Dia tidak menegur ketika ada pejabat yang terlambat masuk ke ruangan musyawarah (Takudar membuat Dewan Kurultai, semacam DPR-lah), cuman mengeluh dalam hati. Takudar juga bersikap mengambang mengenai perasaannya kepada Almamuchi. Intinya, kita jadi pingin nanya, “sebenarnya Takudar ini naksir juga gak sih sama Almamuchi?” Takudar juga belum menikah sampai sekuel kedua ini berakhir.

Han Shiang. Selir yang merencanakan penggulingan terhadap kekaisaran Takudar ini benar-benar bisa digarap dengan baik keantagonisannya sampai bikin kita sebel setengah mati. Selir ini sudah tua tapi masih cantik dan memikat, serta memiliki aura kuat yang bikin semua orang takluk.

Rasyiduddin. Kurang cepat bertindak menyelamatkan Takudar. Tidak terlihat usahanya yang maksimal demi mencegah konspirasi terhadap Takudar. Yang membuat aneh, kenapa setelah Rasyiduddin mengembalikan Takudar ke tahtanya, hubungan mereka merenggang? Bahkan Rasyiduddin kesulitan untuk menemui Takudar?

JuzJani. Adik dari Urghana ini berinisiatif mencari pertolongan ke Han Shiang, karena kondisi keuangan mereka memburuk sepeninggalan Albuqa Khan. Kelihatannya cerita JuzJani mendapatkan porsi yang banyak, tapi pengarang membiarkannya menggantung di akhir cerita. Apa pentingnya cerita JuzJani ini kalau ternyata sampai akhir cerita, kisahnya tidaklah penting untuk diangkat?

Ada banyak pertanyaan yang menggantung di akhir cerita, sehingga sayang sekali kalau novel ini tidak dilanjutkan. Beda dengan The Road to Empire, selesai membacanya, belum tentu kita pingin tahu kelanjutannya karena ceritanya bisa selesai sampai di situ. Tapi, setelah membaca Tahta Awan ini, kita pingin membaca kelanjutannya, karena semua bagian ceritanya masih menggantung.

Siapakah Erjhagal dan prajurit Kashik? Apa tujuan mereka menyelamatkan Takudar?
Apa yang akan  terjadi kepada Takudar setelah tinggal di Persia, tempat tinggal Karadiza? Apakah akan ada cinta yang terjalin di antara mereka?
Bagaimana kisah Han Shiang selanjutnya? Apakah Arghun Khan akan terus tunduk kepada Han Shiang?
Siapa yang menjadi istri Arghun Khan? Ini juga penting, karena Arghun Khan belum berhasil memilih permaisuri.
Bagaimana kelanjutan kisah JuzJani yang mengungsi dari Ulanbataar bersama adiknya, lalu membuka warung makan?
Bagaimana kelanjutan kisah Almamuchi yang kembali mengasuh Arslan (putranya) bersama Silaihua? Akankah Arslan bertemu dengan ayahnya (Arghun Khan)?
Bagaimana kelangsungan hidup pesantren Babussalam yang bisa jadi sasaran kemarahan Arghun Khan karena bersekongkol menggulingkannya?

Pengarang sudah memberikan cuplikan novel berikutnya, tapi agaknya novel itu belum terbit juga. Cuplikannya ini semakin membuat penasaran, karena ada tokoh baru yang misterius: Ewunia, ibu tiri Karadiza. Semoga karakternya gak mirip Han Shiang dan semoga pengarang tidak mengarang cerita yang mainstream dan bisa ditebak, selayaknya kisah-kisah konspirasi perebutan tahta di kerajaan-kerajaan lainnya. 

1 komentar: