Jumat, 14 November 2014

A Cup of Tarapuccino


Judul: A Cup of Tarapuccino; Secangkir Cinta, Rindu, dan Harapan
Penulis: Riawani Elyta dan Rika Y. Sari
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, April 2013
Jumlah Halaman: 304
ISBN: 978-602-8277-88-4

Lelaki itu memiliki rambut ikal yang tampaknya memang sengaja dibiarkan panjang, hingga dari kejauhan tampak seperti ada gelombang hitam yang menutupi kepalanya. Rahangnya ditumbuhi cambang cukup lebat yang berbaris hingga dagu. Kumis tipis tak beraturan di antara hidungnya yang mancung dan bibirnya yang tipis dan kebiruan. Juga sepasang mata dengan bola mata hitam yang dominan. Cukup tampan sebenarnya, tetapi terkesan kumal dan tak acuh.


“Sepertinya ada sesuatu yang istimewa darinya, sampai begitu membetot perhatianmu.”
Tara mengangkat wajahnya dari notebook. Dan menemukan sepasang mata Raffi yang terarah lurus padanya. “Siapa yang kaumaksud?” (halaman 32-33)

Dari deskripsi itu saja, saya sudah merasakan ketertarikan Tara terhadap Hazel, sehingga bisa mendeskripsikan fisik Hazel secara detil. Sebagaimana yang ditangkap Raffi dari Tara, sepupunya menaruh perhatian lebih terhadap Hazel, salah seorang pelanggan tetap Bread Time, yang punya minuman favorit, Cinnamon Cappuccino. Ketertarikan Tara semakin jelas di sepanjang cerita, terutama pada sikapnya yang selalu membela Hazel dari segala tuduhan keterlibatannya dalam beberapa musibah yang menimpa Bread Time.

Sebenarnya, saya sudah membaca novel ini pada terbitan pertamanya yang berjudul “Tarapuccino” dan sudah membuat reviewnya juga. Tapi, saat itu saya masih gagap membaca narasi Riawani Elyta yang cerdas dan panjang-panjang, sehingga ceritanya pun nggak nempel di otak saya. Maklum, otak cetek ehehehe…. Novel ini adalah edisi Republishnya, yang mendapatkan penambahan cerita (revisi) sehingga lebih padat. Dan barangkali karena saya sudah mulai terbiasa dengan gaya bercerita Riawani, saya pun bisa menangkap dan mengingat isi novel ini.

Novel ini memiliki ciri khas yang mirip dengan novel Persona Non Grata (Republish: Jasmine), masih karya Riawani Elyta, yang juga diterbitkan oleh penerbit yang sama. Jangan-jangan penerbitnya memang menyukai jenis novel seperti ini. Tokoh utama prianya adalah seorang Bad Boy yang punya sisi baik tersembunyi. Ada repetisi (pengulangan) karakter antara Hazel (Diaz) dan Dean (The Prince). Latar belakang keduanya pun mirip, yaitu anak-anak terbuang yang kemudian mengambil jalan terlarang.

Sedangkan, tokoh utama wanitanya, Tara, cenderung mengulang karakter Lila di novel Izmi dan Lila, yang mandiri dan cerdas. Saya malah berpikir, karakter mereka itu persis karakter penulisnya, ya Riawani Elyta sendiri yang setahu saya memang tipe wanita mandiri dan cerdas, ahahahaha *efek bergaul dengan penulisnya. Gaya bahasa penulis di dalam novel ini, masih menggunakan kalimat yang panjang-panjang seperti di novel Izmi dan Lila. Di antara semua novel Riawani yang sudah saya baca, saya paling klop dengan narasi penulis di novel The Coffee Memory, karena pas dan nggak bikin ngos-ngosan membacanya.

Sekilas mengenai isi cerita A Cup of Tarapuccino, berkisah tentang Tara dan Raffi, dua sepupu yang membuka toko roti “Bread Time” dengan kualitas menengah ke atas tapi harga dan lokasi penjualannya menengah ke bawah. Usaha mereka berjalan lancar, sampai kedatangan Hazel, langganan setia yang kemudian menjadi salah satu karyawan di Bread Time. Setelah Bread Time memutuskan hubungan kontrak dengan salah satu pemasok bahan makanan, Calvin and Co, gara-gara diduga menggunakan bahan babi, musibah berturut-turut menimpa Bread Time. Belakangan, Hazel dicurigai ikut berperan dalam musibah-musibah tersebut. Selain intrik seputar bisnis, tentu ada intrik asmaranya juga dong, melibatkan Tara-Hazel-Raffi. Lebih banyak dikisahkan dari sisi Tara dan Hazel, sementara Raffi masih tanda tanya, apakah kecemburuannya itu karena memang dia menyukai Tara atau sekadar insting seorang lelaki?

Seorang Tara yang dari luar menampakkan sosok muslimah berjilbab rapi dan menjaga pergaulan, ternyata sulit mengendalikan hatinya karena sepanjang cerita terdeskripsikan kekaguman-kekagumannya kepada Hazel, bahkan mengesampingkan logikanya—sebagaimana yang disebut oleh Raffi—sehingga saya pun ikut gemes sama Tara, ahahahaha…. Tapi ya nggak apa-apa sih, namanya juga jatuh cinta. Apalagi kalau tahu ternyata keduanya punya masa lalu yang ehem-ehem…. Sayang, akhir kisahnya dibuat menggantung, sebab penulis menutupnya dengan puisi yang membuat pembaca gigit jari:

Namun hari ini
Detik ini
Biarkanlah aku untuk sesaat
Menarikan wujudmu
Melepas rinduku… inginku…
Hanya sebatas imaji
Dan dalam jarak
Yang tak jua mampu tuk mendekat….

Saya hanya bisa bertanya-tanya mengapa Tara menjauh, apakah sudah menikah? Dengan siapa? Mari kita nikmati saja tanda tanya ini, karena sepertinya penulis memang suka menggantung ceritanya, khusus untuk novel bernuansa detektif seperti A Cup of Tarapuccino dan Persona Non Grata :D

Tiga kata untuk A Cup Tarapuccino: Lezat, Cerdas, dan Misterius. 






2 komentar:

  1. hehe, resensi kedua untuk novel yang sama......makasih yaaa :D

    BalasHapus
  2. Wow...sampe dibaca lagi. Kereeen dah

    BalasHapus