Selasa, 31 Maret 2015

The Accidental Bestseller


Judul: The Accidental Bestseller
Penulis: Wendy Waxx
Penerbit: Qanita, Mizan
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, April 2012
Jumlah Halaman: 676
ISBN:  978-602-9225-35-8

“Buku ini dipersembahkan untuk setiap penulis—berambisi ataupun tidak—yang ingin menceritakan sesuatu, mencintai tulisan, dan memiliki keinginan membara untuk melihat hasil kerja keras mereka terpampang di rak toko buku. Di posisi teratas, bersampul cantik, dan didukung penuh oleh penerbitnya.” (halaman 5)


Hal yang paling buruk bagi seorang penulis adalah melihat bukunya masuk ke rak obralan dan dijual supermurah, saking tidak lakunya. Tetapi, sebenarnya masih ada yang lebih buruk dari itu, yaitu naskah yang tidak terbit juga karena tidak ada penerbit yang berminat menerbitkannya. Permasalahannya, jika seorang penulis tidak berhasil membuat karyanya menjadi best seller, maka penerbit-penerbit pun akan pikir berulangkali untuk menerbitkan naskahnya lagi.

Itulah yang terjadi kepada Kendall Aims, seorang penulis di daerah bagian Amerika Serikat, yang telah menerbitkan delapan buku, tetapi tak ada satu pun bukunya yang best seller. Harapan satu-satunya adalah mendapatkan penghargaan sebagai penulis fiksi terbaik di salah satu ajang penghargaan untuk para penulis, dan harapan itu pun musnah. Tragisnya, ketika ia pulang ke rumah, suaminya meminta cerai karena sudah berselingkuh dengan perempuan yang jauh lebih muda. Seketika, Kendall memiliki writer’s block. Dia sama sekali tak bisa menulis lagi, walaupun masih ada satu kontrak yang harus diselesaikannya. Hingga ketiga temannya yang juga novelis: Mallory, Faye, dan Tanya membantunya menulis novel bersama-sama. Novel yang mengisahkan kehidupan empat novelis wanita. Siapa sangka, novel yang dikira fiksi itu ternyata kisah nyata keempat penulisnya?

Membaca novel dengan jumlah halaman lebih dari 600 dan dicetak dengan font yang kecil-kecil, ternyata tidak sulit, karena novel ini mengasyikkan untuk dibaca. Apalagi kisah para tokohnya dekat dengan saya, yang juga seorang novelis yang kesulitan mencetak novel best seller, hehehe…. Saya tak menyangka, menjadi novelis di Amerika ternyata penuh tantangan. Ada semacam “kewajiban” bahwa novel kita harus best seller. Jika tidak, barangkali tidak akan ada penerbit yang mau menerbitkan naskah kita lagi. Keempat tokoh novelis yang ada di novel ini, dapat saya temukan sosok aslinya di Indonesia.

Kendall Aims, penulis yang karyanya berada di level menengah ke bawah, alias pas-pasan dengan penjualan pas-pasan, sehingga sering merasa dirinya tidak berbakat menulis. Novel-novelnya tidak pernah mencapai best seller dan dia pun bukan seorang novelis terpandang. Novel-novelnya hanya diletakkan sembarangan di rak-rak buku, malah susah didapatkan di toko buku-toko buku kecil di daerah. Hm, sosok yang banyak terdapat pada novelis di tanah air :D

Mallory, seorang novelis produktif dan terkenal. Dia mewajibkan dirinya menulis 20 halaman setiap hari. Novel-novelnya selalu best seller, tetapi itu didapatkan bukan tanpa pengorbanan. Dia tidak punya anak dan suaminya berkorban besar untuknya, dengan membiarkan seluruh waktu Mallory dihabiskan untuk menulis. Saking seringnya menulis, Mallory pun mengalami kebuntuan dan memplagiat tulisannya sendiri. Memang, jika terlalu sering menulis, tanpa sadar kita mengulang tulisan yang sama. Sama halnya ketika kita terlalu sering bicara, tanpa sadar kita mengulang-ulang pembicaraan yang sama. Mallory pun akhirnya terpaksa melepaskan suami yang sudah tak tahan diduakan oleh naskah.

Faye, seorang novelis inspiratif, yang tulisan-tulisannya membawa misi-misi kebaikan, semacam tulisan spiritual. Sangat sepadan dengan suaminya yang seorang pendeta dan kerap berkhutbah di depan kamera. Faye juga mendonasikan royaltinya untuk membangun rumah yatim piatu. Siapa sangka, selain menulis buku inspiratif, Faye juga menulis buku “porno.” Novel yang mengeksplor adegan-adegan seksual. Mengapa? Karena novel semacam itu laris manis dan Faye bisa membiayai rumah yatim piatunya dengan royalty yang berlimpah dari menulis novel mesum. Adakah di antara Anda yang seperti Faye? Di satu sisi menulis novel inspiratif, di sisi lain menulis novel mesum?

Tanya, seorang penulis serial keluarga, yang juga mulai terkenal. Masalahnya lebih banyak pada kehidupan keluarganya. Ibunya yang pemabuk dan suami yang kabur. Selain menulis novel, Tanya juga bekerja di dua tempat. Dia ingin menjadi wanita mandiri, sehingga menolak bantuan seorang pria yang benar-benar tulus kepadanya.

Membaca buku ini membuat kita mengetahui intrik-intrik yang ada di industri penerbitan buku, terutama di Amerika. Ternyata, menjadi penulis di Amerika pun tidak mudah. Baik itu  menjadi penulis pemula maupun senior. Bagi yang pemula, harus bekerja keras mencari perhatian penerbit dan pembaca. Bagi yang senior, harus bekerja keras mempertahankan posisinya. Saya juga mendapat pengetahuan baru, bahwasanya jika seorang editor sudah melihat potensi best seller pada suatu naskah, dia akan memperjuangkan naskah itu untuk mendapatkan publikasi maksimal, diantaranya: publikasi saat launching buku di berbagai kota, di radio-radio, bahkan acara televisi. Novel itu akan dipoles habis-habisan, termasuk dengan adanya konsultasi sampul di mana penulis memberikan masukan terhadap sampul bukunya. Lain halnya jika penulis itu tidak hendak diangkat oleh penerbit, sampulnya pun asal-asalan. Penulis tidak diberikan kesempatan melihat sampul bukunya atau memberi masukan. Ah, kejamnya, tapi itu memang terjadi, termasuk terhadap novelis Indonesia.

Di setiap bab selalu ada quote seputar kepenulisan, beberapa diantaranya cukup “nendang.” Awalnya, saya tak tahu apa kelemahan dari novel ini, sebab novelis luar negeri acapkali mengonsep novelnya dengan sungguh-sungguh. Setiap karakter tokohnya terasa hidup. Kalimat-kalimat yang digunakan pun variatif. Deskripsi tempat dan tokoh, bahkan gerak-gerik fisik digambarkan dengan baik. Setiap adegan memiliki alasan, tak seperti sebagian besar novel lokal yang banyak menampilkan adegan kebetulan khas sinetron. Kecuali, pada bagian menjelang ending dari  novel ini, yaitu ketika mereka terlibat masalah karena publik mengetahui bahwa novel Kendall tak hanya ditulis oleh Kendall seorang. Tentu saja, semua penulis mengalami masalah, karena mereka telah berkontrak dengan penerbit-penerbit lain (dan di sana, kalau penulis sudah tekan kontrak dengan satu penerbit, maka dia tidak bisa menulis untuk penerbit lain), penyelesaiannya terlalu cepat. Benak saya berkata, “Oh, jadi begitu saja?”

Konflik yang disajikan juga membuat kita larut membacanya, sehingga tak terasa 600  halaman pun tamat dalam beberapa hari, itu karena disambi dengan pekerjaan lain. Dari novel ini saya belajar, jika ingin membuat tokoh antagonis, jangan tanggung-tanggung. Contohnya, Cal, suami Kendall yang berselingkuh, sungguh membuat geram. Entah mengapa, novel romance Barat sering mengangkat kisah suami yang berselingkuh, dan itu sangat menyebalkan  bagi saya. Seolah ikatan pernikahan tak membekas, dan perasaan cinta begitu mudah dilupakan. Mungkin begitulan budaya di Barat, tak melankolis dan berperasaan. Kalau seorang suami sudah tak menginginkan istrinya, ya tinggal dilepas tanpa harus ada rasa bersalah sama sekali. Barangkali bagian perselingkuhan inilah yang membosankan dari novel ini, karena terlalu sering diangkat oleh novelis romance lainnya.

Saya menandai beberapa quote yang menarik, yang barangkali berasal dari penulis-penulis Amerika, tapi sayang hanya beberapa saja yang saya kenal:

“Yang ingin kukatakan kepada seorang anak muda yang berusaha menjadi penulis adalah “Jangan.” Tapi takkan ada pengaruhnya; mereka akan tetap melakukannya, walaupun seharusnya mereka menuruti nasihat itu.” (A.L. Kennedy)

“Satu-satunya hal penting dalam sebuah buku adalah maknanya bagimu.” (W. Somerset Maugham)

“Penerbit tidak merawat Anda; mereka membeli dan menjual Anda.” (P. D. James)

“Anda menulis bukan karena ingin mengatakan sesuatu, melainkan karena ada sesuatu yang harus dikatakan.” (F. Scott Fitzgerald)

Para penulis, sebaiknya membaca novel ini. Agar Anda tahu bahwa industri penerbitan memang kejam, tetapi jika kita sudah tertarik menulis, apa pun yang terjadi, kita akan terus menulis. Sekadar info, saya membeli novel ini dengan harga obral, yaitu Rp 20.000 di Mizanstore, karena barangkali buku ini sudah tidak ada di toko buku. Bagi saya, lebih baik terlambat membaca daripada tidak membaca sama sekali. 



4 komentar: