Senin, 04 Maret 2013

Nenek Hebat dari Saga


Menulis kisah yang hebat, inspiratif, dan menyentuh, ternyata tidak perlu kata-kata rumit, njelimet, berputar-putar, kaya diksi, dan yang disebut sebagian besar orang sebagai “nyastra.” Inilah sebuah kisah hebat, yang ditulis dengan bahasa sederhana. Membacanya, serasa tak ingin meletakkannya sebelum usai dibaca semuanya.


Buku ini saya dapatkan dari hasil lomba resensi di Penerbit Red Line. Penerbit yang agaknya khusus menerbitkan buku-buku dari Jepang. Ada juga buku impor lainnya, tapi kebanyakan dari Jepang. Selain mendapatkan buku sejarah Samurai dan Ronin, buku sederhana ini—syukurlah—tidak salah saya pilih sebagai hadiah. Ohya, saya boleh memilih empat judul buku sebagai hadiah lomba resensi itu. Sebenarnya saya tidak tahu apakah buku ini bagus atau tidak. Tetapi, setelah membaca beberapa komentar pembaca yang sudah membaca buku ini, ditambah track recordnya yang best seller, saya pun memutuskan untuk memilih buku ini.

Sederhana. Bukunya kecil dan halamannya tidak banyak, sekitar 260 halaman. Dan begitu saya buka, fontnya pun relatif besar. Buat orang yang pakai kacamata seperti saya, tentu jadi enak dibaca, tidak perlu menyipitkan mata.

Sinopsis yang tertera di belakang buku, demikianlah:

Akihiro yang kehilangan ayahnya setelah Hiroshima dibom, terpaksa berpisah dari ibu untuk tinggal bersama neneknya di Saga. Meskipun keluarganya hidup prihatin, namun kehidupan di Saga satu peringkat lebih miskin. Tetapi sang nenek selalu punya ratusan akal untuk meneruskan kehidupan dan mebesarkan cucunya. Dengan ide-ide cemerlang sang nenek, kehidupan selalu mereka jalani penuh tawa. Sulit memang, tapi menarik dan mengasyikkan. Namun, waktu terus berjalan dan tibalah hari ketika Akihiro harus mengambil keputusan. Dia harus memilih antara nenek dan Saga yang dia cintai atau mengejar mimpi-mimpinya.

Bisa dikatakan, ini sebuah novel memoar, karena diangkat dari kisah nyata penulisnya. Yoshichi Simada nama sebenarnya Akihiro Tokunaga. Kini dia berkarya di dunia pertelvisian, panggung, dan sebagainya. Buku ini ditulis dengan gaya sederhana, dengan pilihan kata yang seperti buku anak-anak; lugas dan apa adanya. Seperti tulisan-tulisan di Chickensoup. Tidak ada permainan kata-kata atau bahasa sastra.

Saya kutipkan prolog novel ini ya.

Suatu hari saat makan malam.

“Nek, dua-tiga hari ini, kita makan kok hanya nasi ya, tanpa lauk?”

Setelah aku berkata begitu, sambil tertawa terbahak-bahak, nenekku menjawab, “Besok nasi pun takkan ada kok.”

Yoshichi menulis dalam prolognya,

“Saat ini dunia sedang mengalami masa ekonomi yang buruk,” demikian kata semua orang, tapi tak ada yang mesti dibesar-besarkan. Kita hanya kembali ke masa lalu. Yang berubah itu sebenarnya manusianya. Karena tidak punya uang. Karena tidak dapat makan di hotel. Karena tidak dapat berpelesir di luar negeri. Karena tidak dapat membeli barang-barang bermerk. Bila kita berpikir tanpa semua itu kita jadi tidak bahagia, sudah jadi apa sebenarnya kita?

Padahal, tanpa uang pun, cukup dengan perasaan tenang, kita dapat hidup dengan ceria. Kenapa aku dapat begitu mempercayai itu? Karena nenekku adalah orang yang seperti itu.

Sebelum melangkah lebih jauh, simaklah dulu kisah nenek gabai (hebat) dari Saga ini. Kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh uang. Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang ditentukan oleh diri kita sendiri, oleh hati kita.

Ya, buku ini memang menceritakan kehidupan sederhana si nenek hebat dari Saga. Akihiro terpaksa diasuh oleh neneknya yang hanya tinggal sendiri di desa Saga yang terpencil, setelah ayahnya meninggal terkena dampak bom Hiroshima (jadi, setting novel ini sesaat setelah bom atom dimuntahkan Amerika ke Hiroshima dan Nagasaki. Dampaknya begitu hebat bagi rakyat Jepang). Semula, Akihiro ikut ibunya ke Hiroshima, yang bekerja di bar. Berhubung lingkungan itu kurang kondusif bagi anak sekecil Akihiro (sekitar usia 8 tahun), ibunya pun menitipkan Akihiro di neneknya, di Saga. Perpisahan Akihiro dengan ibunya di kereta api, membuatnya trauma. Ia menganggap ibunya tega meninggalkannya di stasiun kereta, sementara ia dibawa adik ibunya ke Saga.

Terlebih ketika sampai di Saga, ia kebingungan karena gelap mewarnai desa itu. Tidak ada listrik, bahkan lentera merah pun tidak ada. Akihiro benar-benar berjalan dalam gelap, ia hanya mengikuti gerak kaki bibinya. Ketika sampai di rumah neneknya, ia sangat berharap tidak tinggal di sana. Rumahnya bobrok, beratap jerami, bahkan sebagian jeraminya terlepas. Dan begitu sampai, ia sudah diajari cara menanak nasi di tungku, dengan menggunakan kayu bakar, tentu. Keesokan harinya, dimulailah proses kemandiriannya, karena Nenek Saga sama sekali tidak memanjakannya. Padahal, ia juga harus mengatasi kerinduannya kepada sang ibu.

Nenek Saga bekerja sebagai tukang sapu di universitas Saga, honornya tidak seberapa. Yang unik adalah, sepulang dari universitas, nenek Saga mengajak Akihiro ke supermarket. Tentu kita berpikir supermarket pada umumnya, ternyata yang ini beda! Supermarket itu adalah sebuah sungai, yang pada sore hari membawa sampah-sampah sayuran dari pasar. Para pedagang suka membuang sayur mayur yang tidak laku itu ke sungai. Sebagian masih bagus kondisinya, dan itulah yang dijaring oleh nenek Saga. Kadang-kadang kalau beruntung, mereka juga bisa mendapatkan sandal jepit yang masih bagus. Mulanya hanya satu, tapi tunggu sebentar lagi, juga akan menyusul pasangannya. Siapa yang mau memakai sandal jepit hanya satu? Kalau yang satu tercebur sungai, yang satunya lagi juga pasti dibuang ke sungai.

Begitulah. Banyak kisah-kisah kesederhanaan yang didapatkan Akihiro dari neneknya. Betapa tak memiliki uang sepeser pun tak menjadi masalah untuk neneknya. Akihiro kadang-kadang makan enak, dari hasil menjaring di sungai, kadang-kadang hanya makan nasi, kadang-kadang tidak makan. Ketika sudah bersekolah, ia bahkan sering mendapatkan makanan berkah, alias makanan yang tiba-tiba datang. Entah mengapa, guru-gurunya sering sakit perut, lalu memberikan makan siangnya kepada Akihiro. Belakangan, Akihiro tahu, bahwa guru-gurunya berpura-pura sakit perut, agar bisa memberikan makan siangnya kepada anak yang ternyata cerdas itu.

Saya belajar banyak dari buku ini, betapa hidup itu bisa bahagia, meski kita tak memiliki materi berlimpah. Bahkan, Akihiro tetap bisa bersekolah dan meraih prestasi, meski dalam keterbatasan.  Nenek Saga benar-benar nenek super. Sedikit bicara, tapi banyak bertindak. Tidak pernah mengeluh, bahkan terus memacu cucunya agar menjadi anak yang kuat dan sukses. Nenek Saga tidak sekolah, tapi sangat cerdas di mata Akihiro. Kadang Akihiro kesal kepada neneknya, karena sangat irit. Tetapi, suatu hari ia terkejut, karena si nenek membelikannya sepatu yang harganya mahal, sepatu khusus bermain baseball. Nenek mengorbankan seluruh tabungannya untuk sepatu itu, melihat potensi cucunya di olahraga baseball.

Saya kutipkan satu paragraf di dalam novel ini:

Hanya dengan berkata, “kita turun temurun miskin” sambil membusungkan dada, Nenek sudah menunjukkan bahwa dia mengusung cara hidup miskin garis keras. Waktu itu aku berada di kelas bawah sekolah dasar. Saat itu negara ini baru saja melewati masa perang, semua orang memang miskin dan banyak anak yang kebutuhan makanannya tidak terpenuhi dengan baik. Itulah sebabnya sekolah-sekolah mengadakan sesuatu yang disebut pemeriksaan gizi secara berkala.

Kami harus menjawab berbagai pertanyaan seperti “pagi ini kaumakan apa?” atau “malam kemarin kau menyantap apa?” dan sebagainya, menuliskannya di buku catatan, kemudian mengumpulkannya ke guru.

“Saat sarapan, aku makan sup miso isi lobster. Saat makan malam, aku makan lobster panggang.”
Demikianlah jawabanku terus-menerus selama beberapa hari. Melihat jawaban di buku catatanku ini, sang wali kelas datang ke rumah bobrok kami seusia jam sekolah dengan wajah muram. Mungkin dia berpikir, dengan rumah seperti ini, bukankah aneh kami makan lobster dua kali sehari, sudah begitu setiap hari pula.

“Berikut ini jawaban Tokunaga-kun. Apakah memang benar begitu?” wali kelasku bertanya sambil menunjukkan buku catatanku ke Nenek. Karena merasa tidak bersalah, aku langsung bangkit dan membela diri dengan keras.

“Tapi aku tidak berbohong! Ya, kan, Nek? Kita setiap hari memang makan lobster untuk sarapan dan makan malam, kan?”

Mendengar ini, kontan Nenek langsung tertawa terbahak-bahak.

“Sensei, maaf. Yang kami makan memang bukan lobster, melainkan udang karang. Akulah yang bilang kepada anak ini bahwa kami makan lobster. Lagipula, bukankah tampilan mereka sama?”
Ternyata Nenek memang memberiku makan udang karang, meski memberitahuku lobsterlah yang kami santap. Omong-omong, udang karang itu pun hasil belanja di supermarket pribadi kami (sungai depan rumah).

Lihatlah bahwa Yoshichi Simada menuliskannya dengan sederhana dan apa adanya. Kita seperti sedang mendengar penulisnya bercerita langsung. Saya yakin semua orang punya pengalaman hidup yang menarik. Dan mulailah menuliskan pengalaman-pengalaman itu dengan bahasa yang kita kuasai, mudah, dan tidak bertele-tele. Tidak perlu berpatokan pada sastrawan-sastrawan kelas berat, apabila kita belum menguasainya. Toh, Rasulullah sendiri menyampaikan Al Quran dengan bahasa yang dikuasainya, bahasa Arab.  

Mutiara-mutiara hidup dari si nenek, saya kutipkan berikut ini;

Saat kita dibenci, itu berarti kita menonjol di antara yang lain.

Nilai rapor apa pun asal bukan nol, tidak masalah. Kalau satu atau dua dijumlahkan, hasilnya akan tetap lima!

Hiduplah miskin dari sekarang! Bila sudah kaya, kita jadi berpelesir, jadi makan sushi, jadi menjahit kimono. Hidup jadi kelewat sibuk.

Ada dua jalan buat orang miskin. Miskin muram dan miskin ceria. Kita ini miskin yang ceria.

Sampai mati, manusia harus punya mimpi! Kalaupun tidak terkabul, bagaimanapun itu kan cuma mimpi.

Orang pintar maupun orang bodoh. Orang kaya maupun orang miskin. Lima puluh tahun kemudian, semua bakal sama-sama berusia lima puluh tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar