Senin, 09 Februari 2015

Asbabun Nuzul untuk Zaman Kita


Judul: Asbabun Nuzul untuk Zaman Kita
Penulis: Fathi Fawzi Abd al-Mu’thi
Penerbit: Zaman
Tahun Terbit:  Cetakan 1, 2011
Jumlah Halaman: 723
ISBN: 978-979-024-269-2

Al Quran adalah mukjizat Nabi Muhammad Saw, seorang nabi yang buta huruf tetapi memiliki kitab yang di dalamnya terdapat ayat-ayat berisi hukum, aturan, panduan, dan sejarah Islam. Memahami ayat-ayat Al Quran tidak bisa sepotong-sepotong, sebab setiap ayat memiliki sejarah turunnya ayat tersebut, yang disebut dengan Asbabun Nuzul. Dengan Asbabun Nuzul, teks tak terputus dari konteksnya. Jadi, ketika membaca ayat suci Al Quran, hendaknya kita membaca terjemahannya pula disertai buku Asbabun Nuzul yang memuat sebab-sebab turunnya ayat tersebut.


Ada banyak buku Asbabun Nuzul, klasik dan modern. Buku ini adalah salah satunya. Al Quran memuat sejarah Islam dari mulai Nabi Adam sampai Nabi Muhammad, akan tetapi buku ini hanya mengkhususkan pembahasan pada kehidupan Nabi Muhammad SAW dari awal kelahiran Islam hingga kematian Rasulullah SAW, kurang lebih 23 tahun beliau hidup di Mekkah dan Madinah. Salah satu cara untuk dapat mencintai Rasulullah SAW dan agama yang dibawanya adalah dengan membaca sejarahnya. Buku ini tak hanya memuat sebab-sebab turunnya sebuah ayat, melainkan juga sejarah Nabi Muhammad SAW, meluruskan kesalahan-kesalahan dan penyimpangan yang disebarkan oleh para orientalis untuk memojokkan muslim dan Rasulullah SAW.

Uniknya, Asbabun Nuzul ini ditulis layaknya sebuah novel sejarah, dengan bahasa yang indah dan dialog antara tokoh-tokohnya. Disusun bak buku kumpulan biografi keluarga dan sahabat Rasulullah SAW yang mendukung perjuangan Islam. Ada sepuluh bab, sebagai berikut: Al Quran Berbicara tentang Para Sahabat, Rasulullah Saw dan Ummul Mukminun, Orang-orang yang menjadi lantaran bagi ketetapan syariat, Al Quran dan para budak serta orang tertindas, Al Quran Berbicara tentang Kaum Yahudi, Al Quran dan Kaum Kafir Quraisy, Musuh-musuh Rasulullah dan Kaum Muslim, Pahlawan dari Luar Arab, Di antara Mukjizat Al Quran, dan Al Quran dan Nabi-nabi Palsu.

Pada Bab Al Quran Berbicara tentang Para Sahabat, kita akan mengenal sebagian sahabat Rasulullah Saw yang mendukung dan menyokong perjuangan dakwah Islam. Ayat-ayat Al Quran  pun berbicara tentang mereka, salah satunya adalah Abu Lubabah ibn Abd Al Mundzir Ra, yang menjadi penyebab turunnya ayat Al Quran, “wahai orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya dan mengkhianati amanat kalian sedangkan kalian mengetahui.” (al –Anfal: 27).

Dikisahkan bahwa Abu Lubabah mendapat amanah dari Rasulullah Saw untuk menghadapi kaum Yahudi dan Bani Quraizan yang membangkang, sedangkan ia berasal dari suku Aus yang memiliki hubungan baik dengan Bani Quraizah. Dengan bimbang, Abu Lubabah mengkhianati amanah Rasulullah Saw, sehingga turunlah ayat tersebut. Rasa bersalah yang mengurungnya membuatnya menghukum diri sendiri dengan mengikat dirinya di tiang masjid sampai Rasulullah Saw sendiri yang melepaskannya.

Ada pula kisah tentang Abdullah Ibn Ummi Maktum, seorang buta yang menyebabkan turunnya surat ‘Abasa ayat 1-3, yaitu ketika Rasulullah Saw mengabaikan Ummi Maktum yang ingin belajar Islam darinya karena Ummi Maktum seorang yang buta. Allah Swt menegur Rasulullah Saw melalui surat tersebut.

Pada Bab Al Quran dan Ummul Mukminun, kita akan mengenal beberapa istri Rasulullah Saw yang kisahnya disebutkan di dalam Al Quran. Dari situ kita juga memahami alasan Rasulullah menikahi mereka, yang ternyata semuanya itu adalah perintah Allah Swt, bukan keinginan Rasulullah sendiri.  Sebut saja Ramlah binti Abu Sufyan, janda Ubaidillah yang murtad karena memeluk agama nasrani dan meninggal karena kecanduan minuman keras. Ramlah yang sebatangkara bermimpi dirinya dipanggil “Ummul Mukminun (ibunda orang beriman, panggilan untuk istri-istri Nabi)”, dan tak lama datanglah pinangan dari Rasulullah Saw. Beliau juga yang menyebabkan turunnya surat Al Mumtahanah ayat 6-7.

Lalu, ada Zainab binti Jahsy, mantan istri Zaid bin Haritsah, anak angkat Nabi. Pernikahannya dengan Rasulullah Saw disebut juga Pernikahan dari Langit, karena Allah Swt yang menikahkan keduanya. Rasulullah Saw menikahkan Zainab—sepupunya—dengan Zaid—anak angkatnya—untuk menghapus pengkotak-kotakan di dalam masyarakat. Bahwasanya Zainab yang anak bangsawan boleh menikah dengan Zaid yang seorang budak, karena Islam tak mengenal perbedaan status sosial. Zainab menolak menikah dengan Zaid, tapi Rasulullah tetap menikahkannya. Akibatnya, pernikahan mereka tidak bahagia dan mereka pun bercerai. Status janda yang disandang oleh Zainab membuat Rasulullah merasa bersalah, karena beliau yang menikahkan Zainab dengan Zaid. Sampai kemudian turunlah ayat Al Quran,

“Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), kami kawinkan kamu (Muhammad) dengan dia.” (Al Ahzab: 37).

Allah Swt yang menikahkan Rasulullah Saw dengan Zainab, sehingga Rasulullah dapat menghapus keraguannya. Zainab pun menerima pernikahan itu karena sesungguhnya ia sudah menyukai Rasulullah sejak lama. Turunnya ayat itu juga sebagai aturan syariat bahwa seorang laki-laki boleh menikahi mantan istri anak angkatnya. Dengan kata lain, pernikahan Rasulullah Saw dengan istri-istrinya tidak dilandasi oleh hawa nafsu, melainkan semata untuk menjalankan perintah Allah Swt yang mana perintah itu kelak akan menjadi landasan syariat.

Jumlah halaman buku ini yang mencapai 700 lebih, tak akan membuat kita lelah membacanya karena penulis pandai merangkai kata-kata indah tapi  tetap bisa dicerna. Terkadang membuat kita terlempar pada masa kehidupan Rasulullah Saw, membuat mata berkaca-kaca menyelami perjuangan dakwah Islam pada masa beliau. Perjuangan para sahabat dan orang-orang saleh.

Pada Bab Al Quran Berbicara tentang Kaum Yahudi, kita akan mendapatkan kisah tentang orang Yahudi yang masuk surga. Kaum Yahudi adalah kaum yang dilaknat Allah Swt karena mereka suka membangkang, tidak taat, dan membunuh para nabi yang diutus Allah. Sejak dahulu sampai sekarang, kaum Yahudi adalah musuh Islam, mereka menyembunyikan kebenaran dari kitab Taurat. Sebab, sesungguhnya, di dalam kitab Taurat telah disebutkan perihal kedatangan nabi terakhir, yaitu Muhammad Saw. Kaum Yahudi menutupi kebenaran itu, sehingga turunlah ayat,

“Orang-orang yang kami beri Alkitab (Taurat, Injil, Zabur) kepada mereka, mengetahuinya sebagaimana mereka mengetahui anak-anak mereka dan sesungguhnya sekelompok mereka menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahui.” (al-Baqarah: 146).

Salah satu pendeta Yahudi yang mengetahui keberanan itu adalah al Hashin ibn Salam, yang membaca Kitab Taurat Perjalanan Kedua Pasal 3 dari Kitab Suci Perjanjian Lama, yang berbunyi, “Dan Tuhan datang dari Sinai, terbit dan muncul di Sair, kemudian bercahaya di Gunung Faran.”

Makna dari ayat itu adalah, bahwa Tuhan memberikan risalah kepada Nabi Musa di bukit Sinai, kemudian mengutus Nabi Isa di tanah Sair (dekat Baitul Muqaddas, Palestina), lalu akan muncul nabi yang baru di tanah Faran (sebutan untuk Mekkah). Al Hashin menantikan kedatangan nabi yang baru yang akan datang dari Mekkah, sampai kemudian dia  mendapatkan kabar tentang Nabi Muhammad yang datang dari Mekkah. Tanpa ragu lagi, al Hashin pun memeluk Islam dan namanya menjadi Abdullah ibn Salam. Al Hashin menyembunyik keislamannya karena orang-orang Yahudi tidak mau menerima kebenaran itu, sehingga turunlah ayat di atas, bahwasanya sebagian orang-orang Nasrani dan Yahudi telah mengetahui kebenaran akan datangnya nabi terakhir yaitu Nabi Muhammad dari Mekkah, tapi mereka mendustai kebenaran itu. Al Hashin menjadi seorang Yahudi yang masuk surga karena menerima kebenaran tersebut.

Masya Allah! Sungguh luar biasa sejarah Nabi Muhammad Saw yang dipaparkan dalam buku ini. walaupun ada satu kejanggalan pada kisah tentang Khaulah bint Tsa’labah, wanita yang menggugat Rasulullah Saw. Dikisahkan di halaman 369, bahwa Aus, suami Khaulah menyebut istrinya mirip dengan punggung ibunya, sehingga mereka tidak boleh berhubungan suami istri. Suami dilarang menyamakan istrinya dengan ibunya. Khaulah pun meminta keringanan dari Rasulullah Saw. Rasul menyuruh Aus untuk bertobat yang disebutkan dalam surat Al Mujadilah: 2-4, yaitu: membebaskan budak atau berpuasa dua bulan berturut-turut, atau memberi makan 60 orang miskin.

“Karena belum berpakaian lengkap, Khaulah menuju rumah salah satu budaknya…” (halaman 369).
“Khaulah berkata: “Wahai Rasulullah, kaffarah itu sulit kami tunaikan. Kami tidak punya pembantu atau budak. Karena itu, aku sendiri yang mengurus rumah.” (halaman 373)

Khaulah tidak mampu membebaskan budak karena tidak punya budak, tapi di halaman sebelumnya disebutkan bahwa Khaulah menuju ke rumah salah satu budaknya untuk meminjam pakaian. Jadi, yang benar yang mana? Wallahu’alam. Saya harus mencari referensi lain untuk mencari kebenarannya.

Tentunya, tidak semua ayat Al Quran diceritakan sebab-sebab turunnya di dalam buku ini. Bisa jadi akan ada jilid II, III, dan seterusnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar