Minggu, 19 Januari 2014

Da Conspiracau: Romans Sejarah Berbalut Konspirasi


Menikmati hujan bersama Da Conspiracau
Judul: Da Conspiracau: Sebuah Konspirasi
Penulis: Afifah Afra
Penerbit: Afra Publishing
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, November 2012
Halaman: 632
ISBN: 978-602-8277-66-2

Sinopsis
Raden Mas Rangga Puruhita, pemuda terpelajar, sarjana ekonomi lulusan Leiden, ningrati Jawa, dan visioner. Ia dibuang ke Flores karena terlibat dalam gerakan melawan kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Tan Sun Nio, gadis yang jelita, cerdas, ambisius, dan terlahir dari keluarga keturunan Tionghoa yang konservatif.  Ia membuang diri ke Flores karena dikhianati calon suaminya. Namun, ia justru berhasil membangun sebuah kerajaan niaga terbesar di Indonesia Timur, dan menjadi orang terkaya di Flores. Suratan nasib membuat keduanya bertemu. Mereka justru didekatkan ketika sama-sama terjebak dalam sebuah konspirasi yang melibatkan sekelompok bajak laut: Bevy de Auaia Leste.



Afifah Afra kembali menanamkan idealismenya ke dalam sebuah novel sejarah. Da Conspiracau adalah sekuel ketiga dari trilogi De Winst. Sayangnya, saya malah belum baca novel yang pertama dan kedua, tetapi tidak mengurangi kenikmatan membaca novel yang ketiga ini karena ceritanya terpisah. Tadinya sempat ragu bakal sanggup menyelesaikan membaca novel ini, saking tebalnya. Ternyata penulis mampu memikat saya melalui jalinan kata-kata, konflik, ketegangan-ketegangan yang dimunculkan, serta teka-teki cinta si Raden Mas Rangga dengan Tan Sun Nio mengingat Rangga sudah menikah dengan Everdine, Noni Belanda.

Soal pernikahan Rangga dengan Everdine, kok saya jadi ingat tokoh utama di novel sejarah Afifah Afra yang pertama: Bulan Mati di De Javasche Orange? Mahmud Ali Syah (muslim keturunan Turki-Inggris) juga menikah dengan Johana Rijkaard (noni Belanda). Agaknya Afifah Afra suka menjodohkan tokoh utamanya dengan noni Belanda. Itulah mengapa, novel De Winst belum saya baca karena berpikiran alurnya mirip dengan Javasche Orange :D.

Sosok Rangga mengingatkan saya kepada Bung Karno (Presiden Soekarno). Terpelajar, dibuang ke tempat terpencil, dan mudah terpincut oleh daya tarik wanita! Hahay…. Lucu saja membacanya, mudah naksir kepada wanita. Ketika melihat sosok Maria, gadis Flores yang diasuh oleh misionaris Belanda, Rangga terpikat dengan hanya sekali pandang. Seandainya belum menikah, tentu Rangga akan mendekati Maria. Syukurlah, dia masih ingat jalinan pernikahannya dengan Everdine. Begitu juga ketika Rangga bertemu dengan Tan Sun Nio. Saya ikut dibuat deg-degan membaca getar-getar perasaan mereka yang tersampaikan melalui gerak tubuh dan kata-kata.

Sosok Maria dan Tan Sun Nio memiliki sedikit kemiripan, yaitu sama-sama wanita  yang kuat dan tomboy. Entah, apakah saya salah menerjemahkan karakter Tan Sun Nio, tetapi seorang gadis yang sanggup melarikan diri ke negeri yang jauh itu membutuhkan kepribadian kuat dan berani. Bedanya, Tan Sun Nio terkesan sangat agresif terhadap laki-laki. Sebelumnya, dia begitu “bernafsu” terhadap Daniel, lelaki Tionghoa terpelajar yang menarik hatinya dan berjanji akan meminangnya. Setelah bertemu Rangga, dia juga begitu “bernafsu” terhadap Rangga yang terlihat dari sikap dan perilakunya.

Menggunakan sudut pandang Rangga dan Tan Sun Nio secara bergantian. Setelah prolog, episode pertama dibuka oleh kisah Tan Sun Nio yang menanti kedatangan Daniel, yang hendak meminangnya. Tan Sun Nio menceritakan perihal dirinya secara berapi-api. Seperti biasa, Afifah Afra menggunakan susunan diksi yang cerdas.

“…Tan Sun Nio nan jelita begitu sulit bersatu hati dengan lawan jenis. Ya, aku jarang jatuh cinta. Tetapi, sekali jatuh cinta, akan sebegitu kuatnya. Dan, hati ini sudah lama terpatri kepada Lim Pek Hong, pemuda tampan yang menawan hatiku. Lim Pek Hong, atau yang punya nama western Daniel Lim, bagiku, bukanlah pemuda Tionghoa sembarangan. Derajatnya telah menampar atmosfir dan menembus langit….” (halaman 34)

Episode kedua adalah cerita dari sudut pandang Rangga, tentang perjalanannya ke Ende. Kali ini, tokoh aku (Rangga) bercerita dengan sendu, lembut, sentimental, kalau tidak mau dibilang cengeng. Karena begitulah memang karakter Rangga, sosok terpelajar tapi kurang “jantan.” Jadi, jangan bayangkan Rangga seperti Superman yang menyelamatkan para wanita. Justru Rangga diselamatkan oleh para wanita.

“Ah, Everdine. Pelan kukecup sapu tangan berwarna biru itu. Everdine… istriku. Mendadak ada semburat hangat menyelusup ke relung-relung dadaku. Ya, Everdine adalah istriku. Maaf, sayangku, sapu tangan ini terpaksa kugunakan untuk membersihkan lukaku….” (halaman 46).

Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa Tan Sun Nio tidak mudah jatuh cinta, dan Rangga sangat setia kepada istrinya. Kenyataannya, ketika keduanya bertemu, mereka saling jatuh cinta :D

Afifah Afra menyajikan teka-teki di sepanjang cerita sebagaimana judul novel ini: konspirasi. Kita tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah (kecuali si tokoh utamanya). Tokoh-tokoh pembantu memiliki rahasia tersendiri, yang baru tersingkap di akhir cerita. Ada Maria Van Persie yang ternyata adik dari pemberontak Mari Nusa, Herman Zondag—prajurit KNIL keturunan Indonesia Belanda yang ditugaskan mengawasi Rangga, Hans Van Persie—keponakan Johannes Van Persie, ayah angkat Maria, Mari Nusa, Ramos—asisten Tan Sun Nio yang berkhianat, dan Djanggo, pimpinan kelompok bajak laut Bevy de Auaia Leste. Kisah-kisahnya menimbulkan rasa penasaran untuk segera selesai membacanya. Dipenuhi intrik politik yang penuh dusta.

Di antara semua tokoh itu, saya memfavoritkan Herman Zondag, seseorang yang memiliki latar belakang kelam dan bersikap menyebalkan, tetapi justru saya nilai sebagai orang paling patriotis. Sedangkan, tokoh yang paling saya sebalkan adalah… ya si Rangga itu lah…. Karakternya cengeng, lemah (sebagai laki-laki), tapi Don Juan sekali, gampang naksir perempuan.

Ini adalah novel sejarah di tanah Flores, yang dapat memberikan kita sedikit pengetahuan tentang sejarah kemerdekaan di Flores, meskipun kebenarannya mesti ditelusuri lagi ya namanya juga novel.  

Jadi, apa kekurangan novel ini? Nah, itu dia, sampai saya bolak-balik dan berpikir lama, saya bingung sendiri apa ya kelemahannya? Saya belum bisa menulis novel seperti ini, jadi susah juga menilik kelemahannya hahaa…. Kecuali… (eh, ada juga ya?), kecuali beberapa ganjalan seperti:

  • Ketidakkonsistenan pemakaian sudut pandang. Walaupun memakai sudut pandang orang pertama (aku), tetapi anehnya kadang-kadang si penulis bercerita menggunakan sudut pandang orang ketiga (dia, nya). Si Aku juga kadang kala bertele-tele menceritakan perihal dirinya, contohnya Tan Sun Nio yang begitu semangat menceritakan dirinya sendiri.
  • Novel sejarah yang cenderung islami ini kadang-kadang mengandung kalimat yang “menggurui,” saya jadi seperti sedang dinasihati oleh si penulis.
  • Terlalu banyaknya kata “kelindan” membuat saya terpikir untuk menjadikannya trade mark dari seorang Afifah Afra :D.

Kecurigaan saya bahwa tokoh Rangga ini terinspirasi oleh Presiden Soekarno agaknya terbukti setelah saya googling tentang “Sejarah Kemerdekaan di Flores” dan menemukan tulisan ini: Soekarno di Ende dan Sejarah Gereja Katolik. Beberapa informasi dari tulisan ini sedikit mirip dengan kisah Rangga:

“Kota Ende, di Pulau Flores, adalah tempat Soekarno dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda selama empat tahun. Soekarno tiba di Ende pada Februari 1934 dengan kapal Jan van Riebeeck dan meninggalkan kota ini pada Februari 1938 dengan kapal De Klerk milik KPM menuju Surabaya. Soekarno dan Ende akhirnya mempunyai hubungan yang patut ditelusuri kembali. Flores sendiri merupakan pulau kecil pada periferi Soenda Kecil, yang baru menarik perhatian pemerintah Hindia Belanda pada awal dasawarsa kedua abad 20. Dengan demikian Ende dimaksudkan sebagai tempat yang dapat mengisolasi Soekarno, menjauhkan dia dari kegiatan politiknya, dan dari rekan-rekan seperjuangannya di Pulau Jawa…”

Kalau difilmkan, saya jadi Herman Zondag ya..
Ini novel yang menarik sekali untuk difilmkan. Semoga saja ada produser yang tertarik untuk memfilmkannya. 

24 komentar:

  1. Bwahahaha... susah untuk nggak ketawa ngakah baca review Ela...
    BTW, kejutan juga bagi saya, karena Ela bisa menyelesaikan novel setebal 600-an halaman ini :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah, penulisnya ketawa ngakak :D

      Hapus
    2. Itu siapa, yang mau jadi Herman Zondag?

      Salah satu misi novel ini memang 'memutihkan' yang kelam dan sedikit 'mengelamkan' yang putih. Jadi klo pada sebel dengan Rangga, berarti misiku berhasil :-D

      Hapus
    3. Ga tau, kayaknya artis Hollywood. Nemu di aplikasi ediy foto :D

      Oooh.. jadi begitu... *nganga...

      Hapus
    4. Itu Jake Gyllenhaal yang peranin The Day After Tomorrow saingannya Armageddon (ya ampun apal ahaha)

      Nicereview mbak :)

      Hapus
  2. menunggu filmnya ajah kali ya.. :D 600 halaman... euuung...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak kerasa kok bacanya, Mba, seruuuuuuu

      Hapus
  3. Siapa ni yg mau jadi Herman zondag ? Iya sih kalo boleh sedikit mengkritik, penuturan penulis saat menggambarkan ketertarikan ke lawan jenis ....blm nemu istilah tepatnya, tp yg sampe ke pembaca ya itu, spt bernapsu kesannya:-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak tau jg itu siapa sih namanya? :D Hehehe... ternyata kita sepakat, Mba...

      Hapus
  4. kereeen.. mbak ela bisa mengkhatamkan novel setebal ini.. reviewnya juga asyik, bikin aku senyam-senyum sedikit ngikik.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, demi hadiah notebook... *tebar jampi :D

      Hapus
  5. hehehe, aku belum khatam, bun :D tapi memang dari buku sebelumnya, si Rangga memang gampang suka :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha...iya memang terinspirasi Bung Karno. Akan lebih menyebalkan lagi kalo jadi poligami :D

      Hapus
  6. Aaaah... makin penasaran. Pengen beli ketiga novel ini. Resensinya kereeen Mbak Ela :)

    BalasHapus
  7. haha... gak kebayang kalo jadi Rangga !

    novel yang terakhir ini belum dapat, satu hal pasti, selalu akhir ceritanya itu bikin pembaca penasaran ! hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan jadi Rangga deh :D ini juga masih bersambung lagi lhoooo....

      Hapus
  8. baca reviewnya mba ela asyik. sepertinya aku memang harus beli ketiga buku ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum punya juga, Mba Sarah?? Kirain update :D

      Hapus
  9. 600 halaman ya..rata2 kalau yg berlatar sejarah memang tebal2 :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, karena konfliknya padat, tp yg De Liefde ga tebal kok :-)

      Hapus
  10. xixi gara2 pengen (baru pengen) ikutan irc, buka-buka lapak indiva dan penasaran dengan novel yang satu ini, tapi 600 halaman ya...beuh kalau gak sesuai minat ceritanya bisa ga beres-beres ya....

    BalasHapus