Jumat, 17 Januari 2014

Takbir Rindu di Istanbul: Mencari Cinta Sampai ke Istanbul


Judul: Takbir Rindu di Istanbul
Penulis: Pujia Achmad
Penerbit: Puspa Populer
Tahun Terbit: Cetakan I, 2013
Harga: Rp 55.000.
ISBN: 978-602-8290-93-7
Halaman: 330

Recommended book. Novel ini memiliki pesan moral yang mengedukasi tanpa menggurui. Kisah cintanya sangat menyentuh. Bagi Anda yang mendambakan novel romantis islami, novel ini jawabannya.” (Oki Setiana Dewi).


Zaida bersiap mengubur harapannya belajar di Belanda ketika pemuda saleh bernama Ilham datang meminangnya Namun, rencana pernikahannya kandas hanya karena ia bukan hafidzah, muslimah penghafal Al Quran. Kegagalan itulah yang kemudian mengantarnya ke sekolah Al Quran. Sayangnya, ia tidak lulus. Ia pun terpaksa pergi ke Belanda dengan membawa luka hati.

Takbir Rindu di Istanbul. Dari judulnya saja kita sudah bisa menebak bahwa ini adalah novel islami. Membaca tiga buah endorsement dari tiga figur publik islami: Oki Setiana Dewi, Meyda Sefira, dan Nina Septiani, semakin menguatkan identitas novel ini. Terlebih setelah membaca sinopsis yang tertera di belakang kover bergambar masjid biru di Istanbul. Novel ini memang novel islami, dengan mengusung tema cinta yang tak biasa, karena dialami oleh orang-orang yang memiliki pemahaman agama cukup baik. Tengoklah Zaida, seorang muslimah berjilbab rapat, aktivis Rohis di kampusnya. Begitu juga dengan Ilham, pemuda yang sangat menjaga pergaulan. Keduanya tentu saja tidak mengenal konsep pacaran, karena itu mereka menyimpan rapat perasaan cinta yang datang di dalam hati masing-masing sampai tiba waktunya Ilham siap melamar Zaida.

Zaida yang mengharapkan Ilham menjadi pendamping hidupnya, sudah pasti senang bukan main ketika Ilham sungguh-sungguh datang untuk meminang. Walaupun benaknya diliputi keraguan karena Ilham anak seorang Ustaz terkemuka dan dari keluarga terpandang. Dugaannya ternyata benar. Ibunda Ilham tidak menyetujui pilihan putranya. Beliau lebih senang jika Ilham menikah dengan Hamidah, seorang gadis yang juga anak Ustaz dan telah menjadi hafidzah (penghafal Al Quran). Ketidaksetujuan ibunda Ilham seakan menjadi jawaban untuk Zaida, mengenai keraguannya menikah karena masih ingin melanjutkan kuliah ke Belanda. Zaida terpaksa menolak pinangan Ilham karena tidak ingin mendapatkan penentangan dari keluarga Ilham. Dia bertekad untuk menjadi penghafal Al Quran seperti Hamidah, demi membuktikan bahwa dirinya juga bisa menjadi hafidzah. Naasnya, kedatangan Hamidah yang menjadi guru tamu di sekolah Al Quran tempatnya menimba ilmu, membuat konsentrasinya pecah. Zaida gagal lulus tes untuk masuk ke sekolah Al Quran itu. Dia pun memutuskan untuk kuliah ke Belanda.

Sungai Maas, Rotterdam
Di Belanda, dia bertemu dengan Salman. Takdir menyatukan mereka dalam pernikahan, meski sebelumnya dia mesti mengalami kesalahpahaman dengan Putri, teman sekamarnya yang juga menyimpan rasa kepada Salman. Setelah Zaida menikah dengan Salman dan memiliki anak, terjadi kesalahpahaman pula yang menyebabkan Salman meninggalkan Zaida dengan pergi ke Istanbul. Zaida mencoba menyusul Salman ke Istanbul, bukannya bertemu dengan Salman, dia justru bertemu dengan Ilham yang sedang gundah karena Hamida belum juga hamil. Dia kembali mengharapkan Zaida menjadi istrinya. Seandainya dulu dia menikah dengan Zaida, mungkin dia sudah memiliki anak. Lalu, bagaimana akhir kisah segi empat ini? Akankah Zaida menjadi istri kedua Ilham? Di manakah Salman berada?

Kisah cinta memang tak ada habisnya dikupas. Cinta dapat mengenai siapa saja, bahkan seorang aktivis dakwah dan penghafal Al Quran seperti Zaida, Ilham, Putri, dan Salman. Ya, cintalah yang menyatukan hati Zaida dan Ilham, dalam perasaan diam-diam hingga Ilham berani menyatakan diri untuk melamar Zaida. Cinta pula yang membuat Putri (seorang penghafal Al Quran) sempat membenci Zaida, karena ternyata Salman lebih memilih Zaida daripada dirinya. Hamida pun tak mau kalah, sikapnya langsung berubah 180 derajat begitu mengetahui bahwa Zaida adalah cinta masa lalu suaminya. Yang semula dia baik terhadap Zaida, menjadi benci luar biasa.

Novel ini tergolong novel yang menarik karena dapat saya baca dalam waktu dua jam saja. Artinya, saya tidak dikepung kebosanan dan penulis tidak berbelit-belit dalam menuliskannya. Hikmah yang dapat saya tangkap adalah bahwa tidak semua keinginan kita dapat terpenuhi, tetapi bila tidak dapat terpenuhi, yakinlah bahwa Allah Swt akan menyediakan penggantinya yang terbaik. Ikhtiar, doa, sabar, dan tawakal adalah senjata kita dalam menghadapi permasalahan sehari-hari.

Masjid Biru, Istanbul 
Novel adalah salah satu media hiburan. Penulis berhasil menghibur pembacanya sekaligus menyisipkan pesan moral mengenai cinta yang islami. Judul “Takbir Rindu di Istanbul” begitu indah dan membuat calon pembaca tertarik untuk membuka novel ini. Latar tempat di Rotterdam dan Istanbul turut memancing rasa penasaran kita. Terlebih dengan belitan konflik para tokohnya, mengajak kita untuk segera menyelesaikan membaca novel ini. Namun, izinkan saya untuk mengupas beberapa ganjalan yang ada di hati saya setelah membacanya:

Pemilihan kata yang digunakan penulis masih sangat sederhana, setiap adegan berjalan dengan cepat tanpa eksplorasi deskripsi suasana, tempat, maupun tokoh-tokohnya. Simak beberapa paragraph pembuka dari setiap adegan:

“Lobi gedung itu ramai sekali. Maklum, karena sebentar lagi seminar dengan salah satu penulis buku muslim terkemuka di negeri ini bakal dimulai.” (halaman 2)

Lobi gedung apa? Seminar tentang apa? Tempatnya di mana? Hanya dijelaskan bahwa setelah pulang dari acara, Zaida mencari kereta dengan jurusan Surabaya, dan temannya akan pulang ke Bandung. Pada sub judul kedua, baru dijelaskan bahwa pertemuan itu terjadi di Jakarta.

“Hari minggu yang cerah. Seperti biasa, Zaida menyiram bunga di halaman rumahnya. Bu Minah, tetangga di ujung jalan, terdengar memanggilnya. Zaida menoleh dan terpana melihat seorang pemuda yang berjalan mengikuti Bu Minah.” (halaman 8)

Dari dua contoh paragraf pembuka adegan itu, saya berharap untuk ke depannya penulis lebih cantik lagi mengemas diksi dan mendeskripsikan situasi.  Setting Jakarta dan Surabaya belum mendukung penceritaan. Akan tetapi, kita dihibur dengan cerita para tokohnya selama berada di Rotterdam. Bagaimana saat-saat menegangkan ketika Zaida mencoba menaklukkan terowongan di dekat Euromast untuk sampai ke apartemennya, dengan mengendarai sepeda. Juga acara jalan-jalan bersama keluarga Salman berkeliling Kota Rotterdam. Dan tentu saja, pesta pernikahan yang romantis antara Zaida dengan Salman di atas perahu yang menyusui sungai Maas.

Di dunia ini, ada peristiwa-peristiwa yang kadang kala kita anggap sebagai peristiwa kebetulan, meskipun sebenarnya sudah diatur oleh Allah Swt. Misalnya, tiba-tiba bertemu dengan teman lama di sebuah bus. Sayangnya, apabila di dalam sebuah novel terdapat banyak adegan kebetulan, maka saya dapat menyimpulkan bahwa penulis terburu-buru mengeksekusi setiap konflik tokoh-tokohnya. Beberapa kebetulan itu adalah:

  • Saat Zaida bertandang ke rumah Nayla, seorang temannya, yang ternyata saudara sepupu Ilham. Zaida menguping pembicaraan Nayla dengan ibunya, tentang penolakan calon istri (Zaida) yang diajukan Ilham kepada orang tuanya.
  • Saat Zaida tak sengaja mendengar obrolan dua orang gadis, salah satunya gadis Belanda, tentang suaminya. Rupanya gadis Belanda itu menyukai suaminya. Gadis itu, Marijne, bahkan menceritakan isi hatinya terhadap Salman kepada Zaida.
  • Salman menemukan surat Zaida untuk Ilham, dan begitu juga Hamida menemukan surat Ilham untuk Zaida.

Dan masih ada adegan kebetulan lainnya, yang sebaiknya tidak saya umbar di sini karena akan membuka jalan cerita secara keseluruhan.

Akhir kata, saya kutipkan sebagian endorsement dari Nina Septiani, The Winner of World Muslimah Beauty 2013 yang juga saya rasakan saat membaca novel ini:

“Nggak mau melewatkan satu kalimat pun. Rasanya ikut terbawa dalam setiap adegan….” 

19 komentar:

  1. Novel ini masih ada di wish-list.. moga bisa segera dapet.. jd bs ikutan lomba resensinya.. :)
    Gutlak ya Mbak.. resensinya bagus..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip mba, semoga bisa ikutan lombanya juga ya.. :-)

      Hapus
  2. iri sama Zaida yang semangat hafalan quran, bun :')

    BalasHapus
  3. Belum punya bukunya euy. Masih mendekam di kampung, belum bisa nyari. Good Luck ya mbak :)

    BalasHapus
  4. Lengkap euy ulasannya , semoga bisa nemu novel ini di tobuk:-)

    BalasHapus
  5. Setuju dengan komen mb Lyta, resensinya lengkap banget euy, jadi gak tau mau menulis apa lagi nanti, hehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belajar juga dari Mba Eky, hihihi.... ah, pasti bisa Mba Eky mah.

      Hapus
  6. Komplit resensinya Mba Hana, ini jadi bahan saya belajar menulis resensi yang baik..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, mba Ety, saya jg masih belajar koq.

      Hapus
  7. agak kurang suka dgn tokoh ilham.. ucapannya pas sdh jd duda srg nyindir2 msh ngarep zaida.. ga sopan menurutku.. orang masa lalu klo ngomongnya msh mbulet ngomongin masa lalu sungguh bikin ilfilll

    BalasHapus
    Balasan
    1. Malah jadi tambah penasaran dengan bukunya baca komen mbak Binta. Hahaha...

      Hapus
    2. Iya, bener, mba Binta, nyebelin yaa.. Ayo deh baca, Yanti...

      Hapus
  8. wahhh memang beda taste-nya jika seorang novelis yang meresensinya. Peka terhadap hal2 yang mengganjal, yang seringkali kurang disadari oleh peresensi yang tdk memiliki background penulis novel..Terima kasih Mba analisisnya, jdi bisa belajar banyak tentang novel

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... mungkin masih ada yg luput juga resensiku ini, mba Tina :D

      Hapus