Sabtu, 18 Januari 2014

Unfriend You: Ketika Persahabatan Diuji


Judul: Unfriend You, Masihkah Kau Temanku?
Penulis: Dyah Rinni
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, 2013
Halaman: 286
Ukuran Buku: 13x19 cm
ISBN: 979-780-648-0

Blurb:
Aku adalah noda untuk dosa yang tak kulakukan. Aku mencoba bertahan, berusaha mengerti, mungkin ada bagian dari dirimu yang tak bisa kuraih. Namun, yang tak kunjung kupahami, mengapa ada persahabatan yang menyakiti?


 Prolog:
Apakah ini neraka? Apakah ini adalah lubang bumi yang paling dalam dan tak ada jalan keluar? Dalam remang cahaya, Katrissa menatap pintu bilik toilet, satu-satunya hal yang melindunginya dari bahaya yang mengancam saat ini. Pintu bergambar smiley tersenyum itu bergoncang-goncang hebat. Mereka masih berteriak memanggil namanya berkali-kali, mengancamnya, memaksanya untuk segera keluar.

“Katrissa! Keluar lo, Kucing Buduk! Lo pikir bisa selamat sembunyi di situ?” (halaman 3)

Novel teenlit dengan tema persahabatan ini langsung memikat saya sejak bagian prolog. Rasa penasaran dikemas oleh penulisnya agar pembaca tidak segera meletakkan bukunya dari halaman ketiga (berhubung halaman pertama dan kedua itu isinya data buku :D). Berhubung di bagian belakang bukunya tidak disebutkan sinopsisnya, maka berikut ini adalah sinopsis dari saya.

Katrissa, siswi baru di Eglantine High School, mulanya masuk ke kalangan itik, sebutan untuk siswa yang tidak popular dan jelek. Penampilannya tahun lalu tergolong itik nerdy: berkacamata dan nyaris tidak punya teman. Karena satu dan lain hal, dia bertemu dengan angsa yang menaikkan derajatnya menjadi angsa. Gadis itu adalah gadis paling popular di sekolah mereka: Aura Amanda. Selain Aura, ada juga Milani Atmaja, indo Inggris. Wajahnya sebenarnya juga cantik, hanya saja tubuhnya gemuk. Jika Milani bisa masuk ke kalangan angsa, itu karena gadis itu keturunan anak orang kaya. Jadi, Katrissa, Aura, dan Milani bergabung dalam satu geng Angsa yang berkuasa.

Kemudian, datanglah siswi baru bernama Priska, seorang gadis yang cantik dan agresif. Dia begitu gencar mendekati Aura agar bisa bergabung ke dalam gengnya, membuat Katrissa khawatir. Dengan sikapnya yang pendiam, Katrissa takut posisinya digantikan oleh Priska. Masalah mulai muncul ketika Katrissa mengetahui bahwa Priska menyukai Jonas (pacar Aura) dan foto Priska dalam sebuah situs online shopping yang memakai mereka menjadi modelnya, menjadi foto yang terbaik, lebih baik daripada foto Aura. Aura mulai melancarkan bullying kepada Priska, sampai Priska nyaris melakukan tindakan bunuh diri saking depresinya.

Apa yang harus dilakukan Katrissa untuk menyelamatkan Priska dari tindakan bullying Aura? Haruskah dia bekerjasama dengan Langit, seorang itik geeky yang pernah menjadi penyelamatnya, dalam kampanye anti bullying? Mampukah Katrissa membohongi hati nuraninya untuk tetap bergabung dan bersekongkol dalam tindakan bullying yang dilakukan oleh Aura? Sanggupkah Katrissa mengorbankan persahabatannya demi keselamatan Priska?

Novel ini ingin bercerita tentang bullying, kekerasan yang terjadi di kalangan remaja. Ingatan kita seakan terlempar pada kasus-kasus bullying di sekolah-sekolah, terutama dalam acara Masa Orientasi (MOS) atau OSPEK. Tak jarang, kekerasan itu mengambil nyawa para remaja kita. Penulis menciptakan kasus bullying yang terjadi di sebuah SMA popular di Jakarta, Eglantine High School (mungkin ini sekolah internasional ya, karena namanya berbau asing). Para siswa di sekolah ini memecah menjadi dua bagian: Angsa dan Itik. Siswa yang termasuk ke dalam kelompok Angsa adalah siswa yang cantik atau tampan, kaya, dan terkenal, dan sebaliknya dengan siswa yang masuk ke kelompok Itik.

Di awal kelihatannya ceritanya mirip dengan adegan sinetron, “Bawang Merah, Bawang Putih” dan semacamnya di mana ada tokoh antagonis yang sangat jahat, dan tokoh protagonis yang sangat baik. Lalu, terjadi “kekejaman-kekejaman” dari siswa Angsa kepada siswa Itik. Bahkan, ada juga adegan penguasaan wilayah-wilayah tertentu (salah satunya, kantin), oleh kelompok Angsa. Akan tetapi, tidak demikian dengan Katrissa. Gadis itu bisa jadi Bawang Putih, tetapi dia bergabung dengan kelompok Bawang Merah. Ya, Katrissa yang semula adalah seorang Itik, diajak bergabung oleh Aura ke dalam gengnya, sehingga otomatis dia menjadi Angsa. Sayangnya, Aura bukan orang yang mudah berkompromi terhadap kesalahan dan kekurangan orang lain. Bila ada orang lain yang lebih baik dari Katrissa, Aura bisa saja menendang Katrissa lagi. Itulah yang membuat Katrissa begitu defensif terhadap kehadiran Priska.

Begitu menariknya novel ini membuat saya tidak bisa berhenti untuk membacanya. Ada banyak tabir rahasia yang disembunyikan oleh penulisnya, dan baru kita dapati menjelang ending. Intinya, ada banyak penyebab mengapa seseorang menjadi begitu agresif, bahkan melakukan tindakan bullying. Yang pasti, perilaku bullying itu tidak terjadi dengan sendirinya. Dengan kata lain, bukan hanya para remaja yang harus membaca novel ini, orang tua pun harus membacanya. Dyah Rinni menyampaikan pesan moral yang bagus di dalam novel ini. Karakter setiap tokohnya terbangun dengan maksimal. Aura yang angsa lembut dan seakan-akan baik hati, tetapi menyimpan kebengisan. Katrisa yang pendiam dan plin plan, tetapi menyimpan obsesi tersendiri. Priska yang agresif dan menyimpan potensi menjadi pengkhianat, serta Milani yang selebor dan cenderung “bodoh.”

Sayangnya, taburan kalimat umpatan dan makian membuat saya jengah (walaupun kenyataannya remaja kita banyak yang terbiasa mengucapkan kata-kata itu). Ada kalanya kita bertanya-tanya, mengapa para guru seperti tak melihat fenomena bullying yang ada di sekolah mereka? Mengapa orang tua tak menyadari bahwa anaknya terkena bullying? Tetapi, penulis memberikan alasannya dengan masuk akal, sehingga semua pertanyaan terjawab dengan jelas.

“Kata-kata bisa menyakitkan. Kata-kata bisa menghancurkan sahabat kita. Gosip, ejekan, panggilan nama jelek, pengucilan bisa mengirimkan sahabatmu ke palung derita yang paling dalam. Kita tidak pernah menyadarinya. Dan saat sadar, kita telah kehilangan sahabat kita dan berteman dengan penyesalan.” (halaman 265)


10 komentar:

  1. di dunia remaja memang ada bullying sejak dulu. kalo aku sendiri dulu pernah kena juga, sampe takut buat sekolah. apapun yang terjadi selama di sekolah, baiknya remaja mau terbuka sama guru dan ortunya, biar tetap terawasi kalo ada apa-apa yang mengkhawatirkan ya, bun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Ila, aku juga pernah kena bullying. Menyeramkan yaa..

      Hapus
  2. Saya juga termasuk korban bullying dulu di sekolah. Tapi nggak terlalu dramatis sih. Masih banyak teman2 yang baik daripada yang ngebully. Mbaak... Jadi ngiler ama novel ini. Duuu... Ini IRC bisa bikin kantong bengkak... Jadi banyak buku yang ditaksir :(

    BalasHapus
  3. Belum kelar baca ini, rada sulit baca kisah anak sekolahan, kurang cepet kliknya, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... udah emak2 jadi sukanya baca yg emak2 ya, mba

      Hapus
  4. Udah lama nggak baca novel teenlit, lebih seneng novel romance domestik. Tapi yang ini seru yah Mbak, tentang bullying yang memang terjadi di sekolah-sekolah. Nice resensi :)

    BalasHapus